#Belajardari Migrasi TV Digital

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Oleh : Gustaf Wijaya

Mungkin beberapa dari #Sobatwiksa pernah mendengar adanya “Analog Switch Off” atau migrasi TV analog yang diharuskan berganti menjadi TV Digital? Mari kita kupas beberapa hal yang perlu #Sobatwiksa pahami terkait hal ini, baca dan ceritakan kepada Bapak/Ibunya di rumah agar tidak lagi khawatir akan kehilangan episode lanjutan Aldebaran atau terlewat Amanah Wali 5 yang makin seru.

Peralihan ke TV Digital, sering diistilahkan sebagai digital switchover (DSO), analogue switch-off (ASO), digital migration, atau analogue shutdown, adalah proses penggantian cara orang menikmati TV dari yang sebelumnya dengan moda analog, sinyal ditangkap dengan “antene goceng” yang perlu tiang tinggi di belakang rumah dengan booster, menjadi TV Digital, di mana sinyal dari “si goceng” tadi dilanjutkan dengan alat penerimaan khusus, yang disebut sebagai Set Top Box atau disingkat STB. Jika bingung apa itu STB, nama lainnya adalah Dekoder, Converter, Receiver atau Pengubah Sinyal. Jadi wajar jika beberapa dari #Sobatwiksa sudah familiar dengan benda ini jika di rumah sudah pakai parabola, atau langganan TV Kabel. Tapi ingat, TV Digital ini bukan TV Kabel berlangganan, atau juga TV lewat Internet (IPTV), beda, dan ini Gratis. Catet.  

Bagaimana cara menggunakan TV Digital ini? Simak grafis dari Indonesiabaik.id berikut:

Memilih Merk STB nya bisa klik di sini : https://siarandigital.kominfo.go.id/informasi/perangkat-televisi pastikan membeli yang menunjang DVBT2 dan tersertifikasi Kominfo. Sebelum membeli STB, baiknya cek sinyal TV Digital sudah masuk daerahmu atau belum, beberapa stasiun TV memang sudah beroperasi secara analog dan digital secara bersamaan. dengan aplikasi android ini : https://play.google.com/store/apps/details?id=com.btjdashboard.ppi  . Jika sudah masuk, dan STB sudah beli, maka selamat menikmati, era TV digital Indonesia.

Mengapa perlu migrasi?

Di dunia tinggal 30-an Negara yang belum migrasi, salah satunya tentu +62 tercinta ini, yang secara bertahap baru mulai 17 Agustus 2021 lalu dan puncaknya November 2022 nanti, dalam 3 tahap. Di negara lain, di Jerman misalnya, pada 3 Agustus 2003 Berlin menjadi kota pertama di dunia yang mematikan sinyal analog terestrial. Sedangkan Luksemburg adalah negara pertama yang menyelesaikan peralihan terestrial, pada September 2006 (Ya iya cepat negaranya luas segitu aja).

Di Indonesia, selama ini gelombang 700 Mhz yang dipakai untuk penyiaran TV analog, sepenuhnya hanya digunakan untuk kepentingan TV saja. Sementara seiring kebutuhan frekuensi untuk internet yang semakin tinggi, membuat banyak pihak sudah melirik “zona nyaman” milik si TV ini. Salah satu yang kemungkinan besar terjadi adalah, 5G akan masuk di Indonesia begitu TV sudah selesai urusannya dengan per-analog-an ini. Bahkan 5G sudah mulai tersedia di beberapa kota besar di Indonesia. Akhir dari paragraf ini adalah, kecepatan internet di Indonesia yang meningkat.

Jika malas klik beritanya, kita bacakan, Telkomsel, Indosat Ooredoo dan XL Axiata sudah punya ijin 5G, beberapa kota yang mulai dapat 5G adalah Jakarta, Solo, Surabaya, Makasar. Lanjut kembali ke laptop.

Bagi pihak TV juga lebih hemat, jika selama ini mereka tayang dengan insfrastruktur masing – masing, maka di era digital akan ada MUX (Multiplekser) yang bertindak semacam “penyalur gelombang digital” ini. Analoginya, jika dulu masing – masing punya bus sendiri – sendiri, sekarang cukup pakai 1 bus dengan 13 seat (1 MUX = 13 slot TV). Walaupun demikian tidak semua TV merasa “hemat”, TV – TV lokal yang sudah ”ngoyo” beli bus sendiri alias investasi besar untuk pemancar mereka sendiri, akan merasa rugi karena si “bus” sudah tidak punya trayek lagi. Hayoloh..

Migrasi ini sudah jadi sebuah keniscayaan. Langkah ini diproyeksikan membawa multiplier effect, termasuk mendongkrak angka PDB sekitar Rp 443 triliun, pajak Rp 77 triliun, serta menciptakan lebih dari 230.000 lapangan kerja baru serta 181.000 unit usaha baru.

Setelah bertahun – tahun tidak ketemu kesimpulannya, kini Pemerintah sudah jauh lebih siap dan kuat, migrasi ini masuk dalam UU Cipta Kerja yang disahkan November 2020 lalu. Maka jangan heran jika banyak pihak mulai bagi – bagi STB TV, seperti yang satu ini misalnya. Hari ini masih satu-dua, peminat belum banyak, tapi beberapa waktu ke depan pasti banyak yang cari.

Bagi pemirsa TV, selain dapat gambar lebih jernih, konten yang disajikan TV diprediksi makin kaya dan segmented. Kualitas siaran digambarkan akan meningkat seiring banyaknya ruang untuk dikembangkan. Konten – konten makin seru, dan media untuk berkreasi juga makin luas. Secara teknis, TV Digital juga lebih canggih, selain intuitif, pengawasan dan pemilihan konten bagi anak akan lebih mudah.

Yang perlu #Sobatwiksa lakukan?

Sekali lagi, Kominfo akan menghentikan siaran TV analog mulai tahun depan, dalam tiga tahap, dimulai 30 April 2022. #Sobatwiksa bisa cek daerahnya masuk di tahap 1,2 atau 3. Bantu orang tua, tetangga, saudara yang masih menikmati TV Analog untuk memahami perubahan yang akan terjadi. Bantu jelaskan apa itu TV Digital dan seperti apa perubahan di dalamnya. Jika uang cukup, belikan dekodernya, jika paham teknisnya, pasangin sekalian, jika tidak ada uang? Ikut giveaway. Indonesia harus terus bergerak maju, termasuk teknologi di TV rumahmu. Ingat pesan Suko Widodo, jika negara lain sudah pakai kereta besi, mengapa kita masih saja nyaman dengan kereta kuda? Salam sehat.

Grafis : Indonesiabaik.id