#Belajardari Netflix

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Oleh : Gustaf Wijaya

Tulisan ini menandai kemenangan besar layanan streaming di Emmy Awards 2021 yang baru saja dilangsungkan (20/9). Netflix memenangkan total 44 penghargaan di ajang ini. Sejatinya Netflix sudah sering mendapat nominasi dan penghargaan Emmy, tapi baru kali ini, di 2021, untuk pertama kalinya sebuah layanan streaming memenangkan penghargaan lebih banyak dari jaringan TV kabel maupun studio media konvensional lainnya. Apakah ini awal dari sebuah era?

Netflix adalah layanan streaming hiburan berbayar yang menyediakan konten, film, dokumenter dan series. Konon pendirinya memulai perusahaan karena harus bayar denda sewa DVD film di jaringan rental DVD yang berjaya di masa itu. Menurut pendirinya, menyewa film di jaman internet tidak harus sesulit dan sekejam itu, terlebih dia membayangkan internet akan semakin membumi, lancar jaya dan murah meriah. Maka nafas Netflix sedari awal adalah perusahaan teknologi, seperti halnya Amazon, Google atau Facebook. Meski begitu, akar usaha awal Netflix sebagai penyedia layanan sewa DVD masih ada hingga kini, tentu dengan angka yang jauh di bawah layanan streamingnya.

Total 190 negara sudah disambangi Netflix. Di Indonesia sendiri, Netflix masuk sejak 7 Januari 2015. Awalnya tentu “berat” karena saingan pasar mereka adalah pembajakan. Namun seiring waktu kesadaran konsumen akan konten berbayar semakin meningkat dan perkembangan keamanan internet yang semakin baik melawan pembajakan, maka seperti yang kita lihat sekarang, khususnya di kota besar, Netflix sudah masuk ke “layar” di rumah-rumah. Mengapa Netflix begitu disukai? Kami sarikan beberapa faktor yang mungkin menjawab pertanyaan itu.

Menjaga kualitas dan daya tarik dengan in-house konten

40% konten “Netflix Original” dikerjakan sendiri oleh Netflix secara in-house. Perusahaan ini keluar modal hingga $15 milyar pada 2019, dan 85% di antaranya pos anggaran untuk konten “Original” tadi. Angka ini masih yang terbesar di antara penyedia konten lainnya seperti Amazon, Hulu maupun HBO Now. Hasilnya? Survey kepuasan konsumen selalu menempatkan Netflix di atas yang lain.

The more investment you’re putting in, the more people are finding content that they love and the more they have value in the service

Reed Hastings, CEO Netflix

Tidak pakai skema afiliasi iklan

Berapa iklan yang anda “skip” per hari? Atau yang tiba – tiba nongol di laman yang sedang anda kunjungi? Netflix melihat iklan hanya akan dianggap sebagai pengganggu konsumennya. Di mana ujungnya konsumen akan memasak ad-blocking software. Jadi di Netflix hanya kenal bayar dan nonton atau tidak sama sekali. Mahal? Mungkin bagi sebagian orang, iya. Tentu bukan Indonesia jika tidak ada solusinya. Akun premium …. murah – murah ….dijual ….yang haus yang haus…

Dekat dengan dunia film Indie

Selama ini dunia film indie seperti keju di pinggiran loyang pizza saja, atensi khalayak dan fokus perputaran bisnis melulu pada para distributor besar, film – film box office dan koleganya. Film Indie? Menyelenggarakan festival sendiri, layar sana sini sendiri. Namun layanan streaming menangkap hal tersebut sebagai peluang, mereka membeli karya – karya para pemenang festival, membiayai produksi sineas – sineas lokal indie, lalu memajang karyanya. Bagi sineas indie, masuknya provider streaming dengan modal yang tidak sedikit tentu membawa angin segar bagi mereka.

Tidak hanya dunia film indie, ranah film dokumenter yang segmentasinya terbatas, terkesan membosankan, dan hanya untuk “mendokumentasikan” sejarah, kini naik kelas bersaing dengan film – film arus utama. Salah satu yang baru keluar misalnya, dokumenter legenda F1 Michael Schumacher, menyedot perhatian dunia, khususnya pecinta olahraga balap. Khusus untuk F1, Liberty Media pengelola F1 saat ini, telah 3 tahun bekerja sama dengan Netflix untuk mendokumentasikan seluruh musimnya dalam tajuk “Drive to Survive”. Series ini seperti “behind the scene” dari semua drama balap yang terjadi sepanjang musim di lintasan F1.

Netflix adalah pionir binge-watching

Ada naluri manusia untuk memuaskan dirinya sepuas – puasnya, sampe mentok. Bingeing istilahnya. Mengapa Netflix dianggap pionir di sini? Pelanggan Netflix bebas menonton series hingga habis sekuat dia bisa. Baik di satu judul maupun dengan loncat dari judul satu ke judul lainnya. Netflix memulai pola seperti ini sejak tahun 2016, di mana satu season sebuah series, mereka akan luncurkan bersamaan seluruh episodenya, tinggal konsumen mereka sekuat apa dan mau nonton kapan mereka mau.

Teknis yang mumpuni

Tentu dengan layanan streaming sekarang, pelanggan diberi kebebasan, mau nonton dari SmartTV, tablet, PC, maupun smartphone. Jika ingin nonton kapan – kapan, tinggal unduh dulu. Netflix juga menyediakan akun “bersama”, serta trial 30 hari sebagai ”pancingan” bagi pelanggan baru. Jarang terdengar juga Netflix bermasalah pada jaringan mereka.
Next?
Menyimak persaingan layanan streaming semakin seru. Netflix bukan tanpa saingan, di Amerika sendiri pertumbuhan mereka mulai digerogoti kompetitor. Meskipun Netflix tetap tumbuh, tapi mereka kehilangan “kue” layanan streaming yang cukup besar.

Bahkan ada yang sudah memprediksi bahwa Disney + akan sejajar dengan mereka pada 2022. Semakin banyak saingan tentu ada baiknya untuk konsumen, karena konten yang disediakan akan semakin bagus, harga semakin terjangkau, dan layanan semakin mudah. Terlebih pandemi Covid-19 membuat masyarakat makin lebih banyak waktu di rumah (dan butuh hiburan tentunya).

Di Indonesia? khususnya di kota besar, mereka terus berkembang dan seakan menjadi “standar sosial” baru di mana ada kelas menengah yang “mampu” ditandai dengan kemampuan mereka berlangganan Netflix, sebuah indikator kelas yang mulai berubah, dari yang semula berlangganan TV kabel. Sebagaimana di awal tulisan ini, apakah ini awal sebuah “era”? salam sehat.