#Belajardari Cara Pemusik Berdamai dengan Pandemi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Oleh : Gustaf Wijaya

Industri pertunjukkan adalah salah satu industri yang terdampak pandemi cukup parah. Muaranya tentu berasal dari penyebaran virus Covid-19 yang sangat mudah terjadi di kerumuman. Sehingga segala macam kegiatan yang mengundang berkumpulnya banyak orang termasuk konser, pertunjukkan seni dan pagelaran, haram hukumnya di masa pandemi Covid-19 ini.

Penulis kali ini fokus pada bagaimana cara pelaku seni pertunjukkan musik bertahan dihantam pandemi. Data yang dihimpun oleh Pollstar menunjukkan hingga akhir tahun 2020, tercatat kerugian sub-sektor ini mencapai USD 30 miliar atau setara Rp 434,6 triliun.

Padahal sebelum pandemi melanda, pertunjukan musik dinilai mempunyai prospek yang menjanjikan. Studi PricewaterhouseCoopers tahun 2018 memproyeksikan pendapatan pertunjukan musik hidup pada tahun 2020 akan mencapai lebih dari USD 34 miliar dan diperkirakan akan meningkat menjadi USD 36,6 miliar selama hingga 2024.

Para pekerja kreatif yang terdampak pandemi juga mendapat perhatian dari Unesco dengan diterbitkannya beragam skema terkait bagaimana industri kreatif bertahan di masa pandemi ini.

#sobatwiksa dapat mengunduhnya disini : https://unesdoc.unesco.org/ark:/48223/pf0000374631

Di Indonesia berdasarkan laporan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (2020) terdapat potensi kehilangan Rp 11,2 triliun sejak pemberlakuan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan kebijakan-kebijakan turunannya. Angka tersebut adalah total estimasi penyelenggaraan 101,400 pertunjukan setiap tahun. Laporan yang sama juga menyebutkan pelarangan kegiatan pertunjukan musik menyebabkan pendapatan performing rights di semester pertama 2020 baru mencapai Rp 11 miliar. Amat jauh jika dibandingkan pendapatan sepanjang tahun 2019 yang mencapai Rp 63,7 miliar.

Lalu bagaimana cara mereka bertahan?

Virtual Concert

Salah satu bukti kesuksesan konser virtual adalah konser Bang Bang Con yang digelar supergrup BTS pada 14 Juni 2020 silam. Dalam konser virtual yang ditonton 756,000 viewers dari 107 negara tersebut, mereka berhasil membukukan pendapatan hingga USD 20 juta dari penjualan tiket yang berharga USD 26-30 dan menjadi rekor pendapatan tertinggi untuk sebuah konser virtual.

Sebagai perbandingan, rekor pendapatan tertinggi untuk konser dipegang oleh tur Divide dari Ed Sheeran yang berhasil membukukan pendapatan USD 775,6 juta dari tur selama 2,5 tahun dalam 225 konser, dengan rata-rata pendapatan di tiap konsernya berkisar di USD 3 juta.

Di Indonesia, pada periode awal pandemi COVID-19 konser virtual marak digelar untuk menggalang donasi bagi tenaga medis dan pihak-pihak yang terdampak pandemi. Salah satunya konser virtual Konser Musik #dirumahaja yang mampu mengumpulkan donasi lebih dari Rp 13 miliar, termasuk dari penampilan mendiang Didi Kempot yang mampu menggalang donasi mencapai Rp 5,3 miliar hanya dalam tiga jam. Inilah kekuatan komunitas daring yang meskipun terpisah ruang dan jarak, namun memiliki kedekatan emosional yang sama, sehingga muncul gairah untuk bergerak ke arah yang sama pula.

Cara ini mungkin saja menjadi solusi paling nyata pengganti konser atau festival musik, tapi fakta menunjukkan bahwa konser virtual tidak cukup menarik bagi banyak orang. Data menyebutkan hanya 5% saja penggemar musik berkenan untuk membayar demi konser virtual, itupun hanya 5% darinya yang ingin membayar lagi pada virtual konser berikutnya. Kecil.

Drive in Concert

Ya, nonton konser dari mobil masing – masing. Seru, pengalaman baru, dan hanya untuk yang punya mobil, atau setidaknya, untuk yang dapat pinjaman mobil. Hal yang beda dari konser biasa selain terbatas dan wajib datang dengan mobil adalah, penggunaan frekuensi FM sebagai medium audio panggung. Tentu, dengan mobil yang ditutup, audio tidak akan masuk di mobil yang kedap, maka frekuensi FM menjadi penyambungnya. Ada juga cerita dari pengisi panggung bagaimana penggunaan klakson sebagai medium interaksi dengan audiens, sesuatu yang tidak ada di konser biasa. Satu lagi, wajah penonton nongol satu satu di backdrop panggung melalui zoom yang disediakan panitia, dari sini terungkap siapa saja yang hadir di drive-in concert itu, termasuk kalangan artis atau pejabat misalnya.

Konser di TV

Tentu bukan hal baru, sudah sering ada dari dulu. Jadi kita bahas yang berikutnya saja.

Mainkan di Spotify

Selain meraup pendapatan dari Adsense di Youtube, para musisi juga meraih pendapatan dari Spotify dan platform streaming musik lainnya. Khusus untuk Spotify, musisi secara global mengaku masih belum mendapatkan “cuan” berarti dari apa yang sudah diputar di Spotify hari ini. Sebagai gambaran umum, streaming musik menyumbang 83 persen dari pendapatan musik rekaman di Amerika Serikat.

Dalam pembayaran royaltinya, Spotify tidak membayarkan langsung kepada artis, melainkan kepada label yang menaunginya. Hal ini membuat “cuan” yang didapat para seniman musik terpotong berlapis – lapis sebelum masuk ke kocek mereka. Nampaknya antara musisi dan pihak aplikasi streaming belum sepakat terkait aturan main bisnis ‘streaming” musik ini. Melalui gerakan #JusticeAtSpotify sekelompok musisi internasional berusaha mengangkat isu pembagian royalti ini sebagai masalah yang serius.

Sejauh ini musik dihargai sekitar 4.000 US dollar per juta streaming, atau kurang dari setengah sen per streaming. #JusticeAtSpotify telah meminta Spotify untuk membayar 1 sen per streaming, yang mungkin mustahil menurut pihak Spotify dengan neraca mereka saat ini.

Radio

Adakah yang melirik radio? Ternyata ada, dalam bentuk lain, bukan radio FM yang bersiar seharian, melainkan Radio Internet yang disiarkan melalui aplikasi mobile.

Tidak banyak yang melakukan ini namun Synchronize Festival adalah salah satunya. Sejak Mei 2021 mereka menyiarkan Synchronize Radio dengan jam tayang tertentu bersama beberapa penyiar radio kenamaan, seperti Arie Dagink dan Andi Saskia. Programnya pun aneh – aneh, seperti Maju Skena Mundur Skena yang menghadirkan deretan artis – artis yang jarang atau bahkan belum pernah masuk dalam media arus utama. Pihak Demajor (Synchronize Fest) mengaku radio ini bertujuan untuk menyusun katalog para artis baru yang layak untuk masuk dalam Synchronize Fest dalam bentuk festival ketika kelak pandemi sudah selesai.

Synchronize Festival memilih untuk tidak “memindahkan” panggung festival ke panggung virtual namun melakukan praktik konvergensi melalui medium televisi serta web radio. Salah satu pertimbangannya adalah untuk menjaga spirit festival musik. Festival musik sebagai mana pertunjukan musik hidup merupakan aktivitas sosial yang paling memiliki bentuk keterikatan paling mendalam dan berkesan dari sekian ragam bentuk keterikatan dengan musik.

Simpulan

Hadirnya pertunjukkan musik dalam berbagai bentuk di atas merupakan salah satu wujud dari konvergensi. Jenkin (2001) menyatakan konvergensi bukan sekadar  menyampaikan informasi melalui kanal elektronik atau digital, namun mencakup lima aspek, yakni teknologi, ekonomi, sosial, global, dan  budaya. Sehingga perubahan wujud yang terjadi tidak semata – mata “ganti sajian” saja, melainkan terjadi pergeseran dalam beragam aspek yang kali ini ke arah yang sama, yakni untuk bertahan melawan pandemi.

Konvergensi memungkinkan perhelatan festival musik dapat menjangkau khalayak lebih luas melalui beragam format distribusi serta medium konsumsi melalui optimalisasi pada aspek hak cipta. Lebih luas lagi, konvergensi ini memungkinkan terbentuknya komunitas-komunitas daring yang menjadi modal sosial dalam keberlanjutan penyelenggaraan festival musik baik secara ekonomi maupun sosial.