Inovasi Vaksin Merah Putih Karya Anak Bangsa

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Usaha tidak akan menghiatani hasil, itulah yang dibuktikan oleh Rektor Universitas Airlangga Prof. Mohammad Nasih dalam membawa Universitas Airlangga masuk dalam peringkat ke-465 dunia yang diselenggarakan oleh lembaga pemeringkatan Quacquarelli Symonds (QS). Progres ini telah dilakukan Prof. Mohammad Nasih sejak awal memimpin periode pertama (2015-2020). Bagi beliau sang Rektor, kesuksesan ini diraih berkat kerja keras semua civitas akademika yang telah maksimal dan bergerak secara kompak hingga melibatkan alumni. Gebrakan-gebrakan nyata dengan skala besar seperti ini yang diharapkan oleh Rektor Universitas Airlangga agar kita dapat selalu berinovasi menciptakan hal-hal yang baru dan positif. Pemikiran-pemikiran yang berlandaskan inovasi sebenarnya telah dilaksanakan diawal pandemi dimana Universitas Airlangga merupakan salah satu universitas yang melakukan perkuliahan konsep online dengan  memaksimalkan Zoom.

Selain itu terdapat inovasi besar lainnya yang digagas yakni dengan adanya pembuatan vaksin merah putih. Latar belakang pembuatan vaksin merah putih ini telah sesuai dengan tujuan Universitas Airlangga yang hadir dalam memberikan solusi permasalahan bangsa dengan cara berkontribusi langsung menciptakan dan bergerak secara nyata. Vaksin merah putih diuji kepada puluhan makaka yang dipantau secara rutin kondisinya seteah menerima vaksin merah putih sebagai rangkaian tes ilmiah dalam pengembangan vaksin hingga nantinya aman diberikan kepada masyarakat. Pengamatan terhadap makaka menunjukkan hasil positif dimana dari puluhan makaka yang disuntikkan tidak mengalami efek samping dari vaksin tersebut. Prof. Muhammad Nasih juga menargetkan bahwa uji terhadap makaka tersebut akan selesai dalam waktu dekat yakni 3 bulan yang nantinya akan dikembangkan lebih lanjut melalui uji klinis dalam hitungan 8 bulan.

Pembuatan vaksin merah putih berada dalam pengawasan ketat BPOM dan Universitas Airlangga telah mendaftarkan vaksin ini kepada WHO. Untuk perkembangan selanjutnya pengembangan vaksin ini menunggu arahan dari BPOM terkait tindakan dimana vaksin akan uji klinis di manusia. Prof. Muhammad Nasih menjelaskan bahwa vaksin ini menggunakan teknologi yang sama digunakan dalam pembuatan vaksin sinovac yakni dengan inactivated dan metode next generation. Dengan adanya vaksin inactivated membuktikan dapat melindungi manusia penyakit berbahaya lainnya seperti hepatitis A dan flu/influenza. Pembuatan inactivated dapat dilakukan secara masal sehingga cocok dilakukan ketika terjadi pandemi seperti kondisi saat ini, begitu pula dengan tingkat keamanannya. Vaksin inactivated relatif tidak seganas jenis vaksin lain yang menggunakan virus aktif sehingga mengurangi adanya resiko yang ditak diinginkan seperti demam dan sakit kepala. Universitas Airlangga memiliki tenaga ahli atau peneliti virus hingga pengembang vaksin yang dilengkapi dengan laboratorium biosafety (BSL 3). Adanya perlengkapan sumber daya tersebut akan untuk meneliti dan mempercepat penelitian vaksin merah putih. Dengan adanya vaksin merah putih diharapkan indonesia dapat mengurangi jumlah impor dan berhasil memproduksi vaksin sendiri maka Indonesia akan menjadi negara produsen yang sanggat membanggakan terlebih vaksin tersebut ciptaan anak bangsa. Prof. Muhammad Nasih menuturkan bahwa pengembangan vaksin ini merupakan rencana jangka panjang Universitas Airlangga karena memang prosesnya yang memerlukan waktu.

Prof. Mohammad Nasih juga menyoroti terkait tingginya sektor impor obat yang dilakukan Indonesia, hal ini selaras dengan argumen presiden Jokowi yang ditayangkan dalam kanal YouTube Sekertariat Presiden dimana 90 persen obat dan bahan baku obat masih mengandalkan impor padahal bila kita melihat potensi sumber daya alam Indonesia baik keragaman hayati dan hewani, darat maupun lautan. Dengan adanya kegiatan impor yang terlalu besar jelas berdampak pada pemborosan devisa negara, menambah defisit neraca transaksi perjalanan dan membuat industri farmasi dalam negeri tidak bisa tumbuh dengan baik. Maka dari itu Prof. Muhammad Nasih sangat berharap adanya inovasi-inovasi yang lahir dari karya anak bangsa sehingga Indonesia dapat menjadi bangsa yang mandiri.