#Belajardari Stories Instagrammu

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Oleh Gustaf Wijaya

Instagram merupakan aplikasi mobile yang secara konsisten dalam 10 tahun terakhir masuk 10 besar di dunia. Beberapa dari pembaca pun pasti baru saja membuka Instagramnya sebelum menyimak artikel ini. Tahun 2020, Instagram menempati peringkat 4, Kalah dari Tiktok, Facebook, dan Whatsapp, namun tentu saja angka penggunanya masih cukup fantastis. Pengguna rata – rata bisa menghabiskan 30 menit di Instagram setiap harinya. Itu angka sebelum pandemi ya.

Instagram Stories merupakan salah satu fitur paling digunakan di Instagram saat ini. Penulis mengutip artikel Anton Eliasson (2018) yang mengupas bagaimana fitur ini cukup berhasil menarik perhatian pengguna. Anton berpendapat, fitur ini adalah salah satu fitur yang paling “berhasil” sepanjang sejarah sosial media. Linkedin mencoba fitur Stories, hanya berumur setahun, gagal. Twitter mencoba dengan Fleets tapi juga tidak berumur lama, bahkan sudah menjadi cemoohan warganet sejak awal diluncurkan.

Banyak yang bilang (dan mungkin memang faktanya) Instagram Stories adalah cloning dari Snapchat. Cukup simak infografis berikut :

insta-snap-stor_stories

Fakta

OK. Kembali ke Instagram Stories, berikut penulis beberkan beberapa fakta sepanjang 2020 terkait fitur ini:

  • Lebih dari 500 Juta pengguna menggunakan fitur ini setiap harinya, atau kira – kira 86.6% dari pengguna Instagram aktif.
  • 60% di antaranya Millenial
  • 30% di antara angka tersebut, konsisten posting setidaknya 1 stories per hari
  • Angka forward rate stories cukup tinggi, yakni 68%
  • 70% Instagram stories dinikmati berikut dengan suaranya
  • Pasar di Amerika menghabiskan 30% budget iklan digitalnya di Instagram stories
  • Small Business Sticker cukup dikenal dan digunakan oleh 60% dari pengguna stories.

Lalu, mengapa stories cukup disukai? Berikut kami sarikan beberapa fakta

Berbagi di Instagram Stories dianggap Self-reward

Menurut salah satu studi Universitas Harvard, 30-40% percakapan manusia bertujuan untuk mengungkapkan informasi tentang diri sendiri. Aktivitas berbagi pikiran dan perasaan dengan orang lain nyatanya memicu otak yang terkait dengan penghargaan. Sehingga, posting sesuatu yang sedang dialami atau dirasakan oleh seseorang, dikonversi otak menjadi sebuah perasaan yang melegakan bagi dirinya. Format stories yang tidak terlalu panjang (hanya 15 detik), dengan kemudahan atur kepada siapa kita berbagi dan menyembunyikannya, membuat stories dirasa banyak orang cocok sebagai media self-reward tadi.

Link Jurnal : https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3361411/

Stories membuat lebih fokus pada “siapa”

Sedari langkah awal membuka stories seseorang, kita sudah fokus akan ingin tahu apa yang dilakukan orang tersebut. Studi dari CalTech menemukan fakta bahwa otak seseorang cenderung mudah menghafal muka – muka yang familiar dengan kita. Maka stories akan membawa kita semakin dekat dan dekat dengan orang yang kita buka storiesnya. Kira – kira seperti itu. Selain mengingat siapa yang ada di stories tersebut, memajang foto/video dari sebuah event juga membuat kenangan lebih melekat di memori seseorang. Begitulah menurut Diehl dkk (2016).

Berikut jurnalnya : https://www.apa.org/pubs/journals/releases/psp-pspa0000055.pdf

Efek Real-time

Dengan langsung publish dan terbuka untuk 24-jam, maka seseorang akan lebih mudah dikenali aktivitasnya. Intinya, stories membuat rutinitas seseorang menjadi gampang dibaca. Dampak baiknya, orang akan semakin paham anda, buruknya, anda menjadi mudah tertebak oleh orang lain.

Selain untuk hal pribadi, Efek real-time ini dapat dimanfaatkan oleh akun – akun bisnis, baik untuk update dagangan yang masih ada stoknya, update live event langsung dari lokasi, maupun promo – promo menarik yang hanya khusus berlaku di hari itu saja, maupun acara – acara dengan peserta terbatas yang dapat berbagi apa yang terjadi kepada mereka di luar sana melalui stories.

Sebuah Thesis dari Lund University Swedia membedah bagaimana real-time marketing melalui sosial media berdampak baik bagi sebuah brand.

Simak Thesis tersebut di sini : https://lup.lub.lu.se/luur/download?func=downloadFile&recordOId=8926717&fileOId=8926718

Dengan berbagi secara real-time, sebuah akun membawa pengikutnya di Instagram untuk turut serta menikmati apa yang si empu akun sedang rasakan, entah sepoy – sepoy angin di pantai, serunya pameran Artjog di Yogyakarta, pedasnya sego sambel di Wonokromo, maupun sepinya terminal Bungurasih saat PPKM yang lalu.

Makin Akrab

Dalam buku “Sapiens” karya Yuval Noah Harari, muncul konsep bagaimana manusia tidak lepas dari gossip dan itulah yang membedakannya dari hewan. Hewan tidak bergosip. Artinya, bukan salah anda kalau ingin tahu stories orang setiap hari, penasaran membukannya dan menunggu jika belum ada. Itu sudah DNA manusia.

Yang berbahaya adalah, jika berbagi dengan berlebihan, atau sebaliknya, menikmati akun orang lain secara berlebihan. Harus kita ingat bahwa berbagi di sosial media sama saja merubah hal privasi atau personal kita menjadi “public domain” atau konsumsi umum. Maka di satu sisi, stories membuat kita semakin akrab dengan seseorang, mengetahui hobinya, ke mana dia pergi dan seterusnya. Namun juga sebaiknya, kita harus mampu mengontrol mana yang dapat dikonsumsi khalayak luas, mana yang hanya untuk konsumsi pribadi sendiri.

Simpulan

Media baru, termasuk Instagram dan seluruh fitur di dalamnya, mengubah banyak cara manusia berinteraksi dan berkomunikasi. Khusus terkait Instagram Stories, selain beragam aspek “senang – senang” di atas, banyak hal yang perlu dipelajari lebih lanjut, seperti bagaimana copyright terhadap potongan – potongan lagu di fitur musik (sisi hukum), lalu seberapa efektif fitur – fitur seperti ask questions, pools dan vote digunakan (sisi komunikasi dan marketing), juga urusan privasi dan fitur close friend yang ramai dibicarakan beberapa waktu yang lalu (sisi sosial dan psikologi). Semakin paham kita dengan benda seperti apa waktu kita habiskan, semoga semakin bijak pula kita menggunakannya. Salam sehat.