#Belajardari Penyelenggaraan Olimpiade dan Paralimpiade 2020 Tokyo

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Oleh : Gustaf Wijaya

Kali ini penulis tidak membahas bagaimana Gracia Polly/Apriani menang, mari kita fokus belajar bagaimana Jepang mengemas even besar di masa pandemi ini. Olimpiade dan Paralympic Tokyo mengalami penundaan selama setahun akibat pandemi covid-19. Dengan berbagai persiapan, akhirnya penyelenggaraan pesta olahraga terbesar di dunia ini diadakan dengan adaptasi konsep dan adaptasi menyesuaikan dengan protokol kesehatan yang berlaku. Sejauh penyelenggaraan, Jepang dianggap berhasil menunjukkan kepada dunia bagaimana menyelenggarakan sebuah even internasional selama pandemi covid-19, dengan situasi yang terkendali, kenyamanan yang tinggi, serta beragam inovasi dengan baik tereksekusi. Ini kali keempat Jepang menjadi tuan rumah Olimpiade, sebelumnya pada 1964, Winter Games 1972 serta penyelenggaraan di Nagano 1998.

Adaptasi Covid-19

Menyoal penonton, pada Maret 2021 pihak penyelenggara telah memutuskan untuk menutup pintu bagi pendukung masing – masing negara guna menyaksikan Olimpiade. Awalnya, hanya penonton domestik yang direncanakan boleh hadir di sisi arena, namun peningkatan kasus beberapa minggu sebelum dimulainya acara membuat rencana ini pun dibatalkan. Data menyebutkan rating siar Olimpiade Tokyo 2020 menjadi salah satu yang terendah sepanjang sejarah, sejak Seoul 1988 dan Pemerintah Jepang merogoh kocek setidaknya hingga $8 Milyar guna menutup kekurangan tersebut. Dibanding Olimpiade Rio 2016 misalnya, penonton siaran turun dari as 26.7 Juta Penonton menjadi 15.5 juta penonton saja.

Penyesuaian lain dilakukan pada serangkaian seremonial obor olimpiade. Obor yang biasanya diarak dengan gegap gempita, diganti dengan seremonial – seremonial tertutup. Lari membawa obor juga diikuti partisipan secara terbatas, warga yang biasanya menyambut di tepi jalan, dilarang dan hanya boleh memberi semangat dari balkon dan teras rumah mereka.

Rute obor pun diambil bermula dari Fukushima, sebuah daerah yang 10 tahun lalu terdampak tsunami cukup dahsyat. Jepang ingin membuktikan bangkitnya kota ini kepada dunia melalui Olimpiade 2020. Ada jurnalnya kalau ada yang mau baca.

Protokol kesehatan menjadi hal wajib dalam penyelenggaraan Olimpiade 2020 kali ini. Tweet berikut cukup menjelaskan bagaimana atlet berada dalam Olympic Village dengan prosedur kesehatan yang cukup ketat, terima kasih Mbak Jazz yang sudah menjelaskan di video tersebut. Hal ini sangat krusial guna menjamin kelangsungan even, yang secara luas disorot internasional dan domestik, pun tidak semua warga Jepang mendukungnya.

Ajang Pamer Inovasi

Selain menjadi ajang pembuktian bahwa Jepang mampu melakukan semuanya, baik even internasional di masa pandemi maupun bangkit dari tsunami, penyelenggara juga tidak lupa menyelipkan beragam inovasi. Mulai dari yang dasar, seluruh energi yang digunakan dalam penyelenggaraan Olimpiade sudah menggunakan energi ramah lingkungan, yakni tenaga surya dan angin. 5000 medali yang dicetak, berbahan dari limbah gadget. Mobilitas atlet selama di kawasan Olimpiade dibantu oleh mobil tanpa awak. Atlet cukup melakukan scan dari Handphone mereka ke mobil tersebut untuk masuk dan “diangkut” oleh si mobil. Jalan yang dilalui pun sudah menggunakan solar-road, alias aspalnya mampu menyimpan panas matahari sebagai energi. Tamu yang datang disambut oleh robot yang siap membantu alih bahasa dan berbagai panduan lainnya. Pertanyaanya, Indonesia kapan punya serangkaian inovasi itu?

Salah satu inovasi lain yang pembaca pasti tahu adalah kasur dari kardus yang cukup kontroversial. Bahan kardus dipilih guna mengkampanyekan bahan ramah lingkungan. Di Jepang sendiri, kasur ini bukan hal baru, mengingat pada pusat – pusat pengungsian bencana alam yang sering terjadi, seperti gempa dan tsunami, mereka telah lama menggunakannya. Olympic Village yang ada juga jauh lebih mudah dikosongkan nantinya, karena panitia hanya perlu melipat kasur yang ada. Banyak yang meragukan kekuatannya, beberapa atlet penasaran mereview kasur itu saat menggunakannya langsung.

Berikutnya

Penyelenggaraan Olimpiade Jepang ini tentu mejadi tolak ukur penyelenggaraan even -even olahraga multinasional lainnya, karena menjadi yang pertama terselenggara pasca munculnya pandemi Covid-19. Beijing akan menjadi tuan rumah Winter Games tahun 2022, lalu The Summer Games di Paris pada 2024 dan Los Angeles pada 2028. Sedangkan The 2026 Winter Games akan dilaksanakan di Milan dan Cortina d’Ampezzo, Italia. Sementara itu, tuan rumah Winter Games 2030 akan ditentukan pada 2023. Pertanyaan penulis sederhana? Mampukan Indonesia memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan seperti yang dilakukan Jepang? Siapkah Indonesia bersaing dengan inovasi – inovasi yang sudah lari jauh tadi?.

Catatan lain, bagi pembaca yang penasaran, bagaimana nasib Olympic Village pasca penyelenggaraan? Jawabnya, akan jadi real estate dan mulai dijual saat paralimpiade selesai. Modalnya dulu kira – kira $2 Milyar. 21 Tower dengan 3,600 unit siap direnovasi dan dilego dengan harga 49 Juta yen (sekitar $445,000). Tenang, soal ini Indonesia cukup berhasil merubah wisma atlet menjadi penyelamat banyak orang. Sejak awal pandemi di Indonesia, seperti kita tahu fungsinya menjadi Rumah Sakit Darurat Penanganan Covid-19 Wisma Atlet Kemayoran. Salam Sehat.