Cara mahasiswa merespon realitas dan Tips Mengerjakan Skripsi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Berbicara mengenai skripsi, banyak diantara kita yang berpikir terkait tugas akhir yang cukup rumit dengan proses panjang. Bila secara definisi maka skripsi merupakan karya akhir dari rangkaian kegiatan akademis yang mampu memberikan indikator pemahaman dan ketercapaian dari disiplin ilmu mahasiswa yang bersangkutan . Hal ini selaras dengan apa yang telah diucapkan oleh Prof. Dr. Bagong Suyanto selaku Dekan FISIP Universitas Airlangga bahwa dengan adanya skripsi mahasiswa dapat mengorganisasi ide-ide kecil menjadi ide besar hasil kepekaan masing-masing individu dalam merespon realitas. Skripsi menjadi akumulasi dari seluruh ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh mahasiswa selama berkuliah. Dengan kata lain, skripsi dapat menjadi momen mahasiswa menulis dalam suatu rangkaian proses yang utuh secara akademis. Proses dalam mengerjakan skripsi memiliki makna bahwa individu atau mahasiswa yang bersangkutan berusaha untuk memahami problematika sosial disekitar mereka secara lebih kritis.

Salah satu bagian penting agar skripsi dapat dikatakan baik dan ideal adalah skripsi yang mengangkat permasalahan sosial secara up to date, tidak mengangkat permasalahan yang telah usang atau sama seperti skripsi pada tahun-tahun sebelumnya dengan ide yang sama, hal ini dikarenakan dalam kehidupan bermasayarakat akan selalu terjadi adanya perubahan. Perubahan yang merujuk pada masyarakat yang bersifat dinamis. Perubahan sosial berkerucut pada bervariasinya cara hidup masyarakat karena berbagai perubahan, baik perubahan kondisi geografis, kebudayaan material, komposisi penduduk, ideologi hingga adanya difusi ataupun penemuan-penemuan baru didalam masyarkat . Disinilah peran mahasiswa untuk dapat berpikir secara kritis dengan cara berusaha menggali secara lebih dalam, mencari permasalahan-permasalahan yang terjadi diseitar kita menggunakan langkah-langkah yang terukur sesuai dengan metode penelitian yang diggunakan.

Dari berbagai macam kendala mahasiswa yang sering dijumpai saat mengerjakan skripsi, satu kendala yang kerap menjadi momok yakni terkait dengan tertolaknya judul skripsi mahasiswa oleh dosen pembimbing atau bahkan judul skripsi yang harus mengalami berulang kali revisi. Dr. Bagong Suyanto menyatakan bahwa usulan skripsi bukan semata mata bergantung kepada judul, akan tetapi lebih kepada konten yang ada didalam judul tersebut. Apakah fokus masalah penelitian skripsi tersebut sudah bisa dianggap sebagai riset question atau belum. Terdapat perbedaan antara rumusan masalah skripsi yang diajukan oleh mahasiswa bila dibandingkan dengan pertanyan masyarakat awam dimana pertanyaan mahasiswa mengandung konsep-konsep terminologi teoritik.

Salah satu cara agar dapat menyusun skripsi yang baik yakni dengan membuat rumusan masalah yang memiliki kerangka piramida terbalik, problematika yang dikaji oleh peneliti semakin lama harus semakin terfokus, maka hal yang dapat dilakukan mahasiswa yakni memfokuskan permasalahan skripsi sehingga tidak melebar dan sesuai dengan apa yang nantinya akan dibahas dalam skripsi tersebut dalam arti ini maka rumusan masalah harus konsisten. Permasalahan yang terlalu global atau melebar dari fokus utama, ketidak elasan peneliti dalam merumuskan rumusan masalah seringkali membuat skripsi tersebut tidak cepat selesai dan mengalami banyak kendala, maka fokus dan konsistensi peneliti dalam mengerjakan skripsi sangatlah penting dan menjadi salah satu kunci utama menyusun skripsi secara benar. Menulis skripsi memerlukan proses sehingga hal-hal diluar konteks permasalahan penelitian seperti tebalnya skripsi bukanlah hal yang penting akan tetapi lebih kepada kemampuan mahasiswa untuk mengorganisasi ide-ide yang mereka dapat. Materi pokok atau gagasan merupakan langkah penting dalam penyusunan skripsi.

Dalam dunia akademis isu-isu terkait plagiarisme nyatanya kerap terdengar ditelinga kita sehingga bukan merupakan hal baru, plagiarisme telah menjadi ancaman bagi integritas ilmu pengetahuan . Secara sederhana plagiarisme dapat kita definisikan sebagai kegiatan melakukan copy dan paste (menyalin) produk intelektual yang dimiliki oleh orang lain dengan cara disalahgunakan tanpa menyebutkan nama atau identitas sang penulis. Dr. Bagong Suyanto menegaskan bahwa plagiat tidak hanya dinilai melalui hasil pembuktian trunitin akan tetapi plagiat menyangkut banyak spektrum sebagai contoh meminta bantuan orang lain untuk membuatkan skripsi atau yang lebih kita kenal dengan joki skripsi hingga mencuri ide orang lain tanpa menyebut sumber. Plagiarisme lebih kepada sikap moral didalam dunia akademis. Baik mahasiswa hingga dosen harus memiliki komitmen, kehormatan dan kewibawaan untuk tidak terjerumus kepada pencurian ide atau copy dan paste ide-ide argumen milik orang lain. Pada dasarnya skripsi merupakan hasil seseorang telah berkuliah sehingga hal tersebut yang dijadikan sebagai modal sosial untuk membangun kehormatan dan menghasilkan karya terbaiknya. (*)