DIGITAL WORLD: PERKEMBANGAN REALITAS SOSIAL DI ERA MASYARAKAT BERJEJARING INDONESIA

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

oleh : Jokhanan Kristiyono

Perkembangan teknologi dan komunikasi di Indonesia telah merubah dan membentuk kehidupan sosial masyarakat Indonesia dalam penggambaran elektronik dengan medium sosial media, televisi, film, game, foto digital yang terhubungan menjadi satu pada dunia internet. Perkembangan teknologi medium digital membawa imajinasi manusia menembus batas-batas realitas sosial. Hingga terjadi realitas semu dengan manipulasi realitas sosial nyata, sehingga seakan-akan manusia sebagai makhluk sosial bergerak dan hidup dari dunia nyata masuk ke dalam dunia imajinasi, dunia semu atau dunia maya yang tampak nyata (Baudrillard, 1994).

Kesemuan kehidupan menjadi semakin berkembang pesat dengan semakin berkembangnya dunia Internet, media komunikasi digital berkembang pesat dan mudah bertransformasi hingga berevolusi dalam berbagai macam bentuk. Kecepatan penyebaran informasi digital pada dunia Internet Society semakin membuat realitas semu dunia juga masif (Castells, 2010b). Efek dari teknologi digital menimbulkan perluasan dan peningkatan bentuk konektivitas, juga mengarah pada bentuk informasi yang salah, kesalahan komunikasi atau miskomunikasi, hingga efek negatif yang ditimbulkan pada kehidupan sosial budaya yang dramatis dan terkadang fatal.

Menganalisa perkembangan dunia digital di Indoensia tidak akan terlepas dari realitas sosial masyarakat, mulai pada elemen pekerjaan, budaya, interaksi sosial dengan sudut pandang ekonomi, politik dan sosial budaya. Pada tulisan ini akan khusus menganalisa perkembangan dunia digital dengan sudut pandang sosial budaya Manuel Castells dan sudut pandang ekonomi Don Tapscott.

Perkembangan Dunia Digital Perspektif Manuel Castells

Pertumbuhan dan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi di Indonesia sangat pesat, masyarakat sosial di Indonesia juga saat ini sudah saling terhubung satu sama lain tanpa dibatasi ruang dan waktu dan masyarakat sosial ini disebut masyarakat informasi. Menurut Castells (2011) masyarakat informasi memiliki beberapa pandangan terhadap perkembangan masyarakat informasi yaitu secara umum ada enam hal yang menjadi gambaran masyarakat informasi menurut perspektif Manuel Castells yakni informasionalisme, masyarakat jaringan (network society), perekonomian global atau ekonomi informasional, transformasi angkatan kerja, global city dan cyberculture (Castells, 2011b).

            Masyarakat Indonesia saat ini masuk pada perubahan era yaitu era informasi. Proses perubahan sosial global yang disebabkan oleh transisi dari masyarakat industri lama berubah atau bergeser menjadi masyarakat jaringan global. Era Milenium yaitu pada tahun 2000an sudah berubah menjadi era global dengan teknologi informasi sehingga masyarakat dunia menjadi masyarakat informasi dengan adanya perubahan sosial secara global (Castells, 2010a). Gerakan sosial di Indonesia sering terjadi dan terus berkembang sesuai dengan tujuan dan metode aktifitasnya. Dengan adanya dukungan teknologi dan masyarakat informasi yang terus bertumbuh kembang di Indonesia, gerakan sosial dengan platform digital terus meningkat pesat. Aktivitas digital pada masyarakat kontemporer atau masyarakat informasi di Indonesia menjadikan realitas sosial yang semua hingga membentuk identitas digital (Castells, 2011a). Gerakan atau aktifitas digital (digital activism) ini muncul karena adanya tujuan bersama yaitu Mempertahankan ruang public dan Private Sphere seperti yang disampaikan oleh Habermas (Lubenow, 2012). Termasuk bagaimana upaya kolektif untuk kepentingan bersama diluar ruang lingkup lembaga mapan oleh Giddens (Carroll & Ratner, 2010).

Perkembangan Dunia Digital Perspektif Don Tapscott

Don Tapscott, seorang eksekutif bisnis dari Kanada lahir 1 Juni 1947 (70 tahun). Dia seorang penulis, konsultan bisnis dan pembicara. Spesialisasi dan konsentrasi dalam strategi bisnis, transformasi organisasi dan peran teknologi dalam bisnis dan masyarakat. Bukunya tentang perkembangan digital masyarakat yang menganalisa budaya konsumen (culture audiences) yaitu Growing Up Digital: How The Net Generation is Changing Your Worldpada tahun 1997 membuka pola pikir dan pandangan ekonomi bisnis dunia.

            Sejak internet dan media baru lainnya telah diadopsi dan diintegrasikan ke dalam kehidupan sehari-hari dengan meningkatnya jumlah pengguna remaja muda (generasi milenial) di negara Barat, para ahli dan peneliti memperdebatkan dampak dari media baru ini pada pekerjaan, hubungan sosial, dan pandangan dunia dari generasi yang lebih muda yaitu generasi milenial. Perdebatan tentang apakah teknologi membentuk nilai, sikap, dan pola perilaku sosial bukanlah hal baru. Di masa lalu, ekspansi cepat dari televisi merangsang diskusi serupa tentang efek budaya dan sosialnya (Baudrillard & Lane, 2000). Literatur di internet dan budaya remaja menyajikan pandangan yang berbeda mengenai peran teknologi dalam masyarakat. Dua perspektif utama adalah determinisme teknologis dan konstruksi sosial teknologi.

            Konsep dasar “generasi” telah banyak dibahas pada penelitian dan teori-teori ilmu sosiologi; Sosiologi budaya, sosiologi media dan audiensi dalam beberapa tahun terakhir ini. Konsep generasi telah berguna untuk menggambarkan diferensiasi sosial atau perbedaan sosial (Cavalli-Sforza, Menozzi, & Piazza, 1994). Dunia digital saat ini  adalah dunia yang berbeda pada tahun 1990an, awal-awal internet digunakan oleh masyarakat luas. Belum ada Google, Facebook, Twitter, dan tidak ada TikTok. Dunia digital berkembang maju beberapa dasawarsa, pada dunia berkecepatan tinggi dan interaktif yang ditumbuhkan oleh Generasi saat ini (Generasi Milenial). Kecepatan pengiriman di Internet yang jauh lebih cepat dibandingkan beberapa dasarwarsa lalu, karena akses Internet broadband berkecepatan tinggi sekarang menjadi hal yang umum dan biasa digunakan oleh masyarakat.

            Perilaku konsumen di dunia digital terutama pada jejaring internet yang disesaki oleh generasi milenial ini menjadi penggerak sistem ekonomi global. Pola mengakses informasi, pola belanja dan bagaimana media digital menjadi platform utama masyarakat informasi ini memberikan data yang luar biasa (Internet Big Data). Data pribadi masyarakat informasi ini bisa memetakan perilaku audiens bagaimana pola mereka menggunakan media. Pola penggunaan internet terutama pada media sosial mengharuskan pengguna memasukkan data personal mulai nomor kontak personal, alamat, dan informasi lainnya yang bersifat sangat pribadi. Data ini yang dapat diakses oleh instansi atau perusahan untuk mengembangkan bisnis hingga penawaran jasa/produk mereka

Simpulan

Dunia dan kehidupan kita dibentuk oleh tren globalisasi dan identitas yang saling bertentangan. Revolusi teknologi informasi, dan restrukturisasi kapitalisme, telah menciptakan bentuk masyarakat baru, masyarakat jaringan. Hal ini ditandai dengan adanya globalisasi kegiatan ekonomi yang menentukan secara strategis. Dengan bentuk jaringan organisasi. Dengan budaya virtualitas sejati yang dibangun oleh sistem media yang luas, saling terkait, dan beragam. Dengan transformasi dasar material kehidupan, ruang dan waktu, melalui konstitusi ruang arus dan waktu yang abadi, sebagai ungkapan aktivitas dominan dan elite pengendali.

Ini merupakan bentuk organisasi sosial baru, dalam globalitasnya yang luas, menyebar ke seluruh dunia, sebagai kapitalisme industri pada abad ke-21, menggerakkan hingga menggoncangkan institusi, yang dapat merubah budaya, menciptakan kekayaan dan mendorong kemiskinan, memacu keserakahan, inovasi dan harapan, sekaligus menimbulkan kesulitan dan menanamkan keputusasaan pada masyarakat dunia. Sangat mudah untuk disepakati secara fakta bahwa semua identitas dibangun dari perspektif sosiologis. Masalah sebenarnya adalah bagaimana, dari apa, oleh siapa, dan untuk apa. Pembangunan identitas menggunakan material dasar dari sejarah, geografi, biologi, lembaga produksi dan reproduksi, dari ingatan kolektif dan fantasi pribadi, dari aparatus kekuasaan dan agama (Castells, 2011a). Tetapi secara individu, kelompok sosial dan masyarakat memproses semua materi ini dan mengatur ulang maknanya, sesuai dengan determinasi sosial dan proyek budaya yang berakar pada struktur sosial dan kerangka waktu mereka.

Determinasi teknologi menyajikan internet sebagai kekuatan inovatif yang memiliki pengaruh besar pada anak-anak dan remaja; teknologi menghasilkan pola ekspresi, komunikasi, dan motivasi baru. Dalam pandangan ini, berbagai istilah telah digunakan untuk menggambarkan generasi muda ini, termasuk “generasi Net,” “generasi milenial,” dan “digital native” (Tapscott, 2009). Label generasi-generasi ini untuk mengidentifikasi sekelompok besar remaja muda yang tumbuh selama perkembangan internet dan sejak usia dini telah tenggelam dalam lingkungan media yang kaya (media convergence) , menggunakan komputer, bermain game online, terus berkomunikasi dan terhubung dengan teman-teman mereka dengan perangkat elektronik (berbasis Internet). Pemuda ini menciptakan dan menggunakan ruang digital untuk interaksi sosial, ekspresi identitas, dan produksi media dan konsumsi.

Daftar Pustaka

  • Baudrillard, J. (1994). Simulacra and simulation / by Jean Baudrillard ; translated by Sheila Faria Glaser. Idea (Vol. 29). https://doi.org/10.1017/S1359135500001081
  • Baudrillard, J., & Lane, R. J. (2000). Jean Baudrillard – Routledge Critical Thinkers. Routledge Critical Thinkers.
  • Carroll, W. K., & Ratner, R. S. (2010). Social Movements and Counter-Hegemony: Lessons from the Field. New Proposals: Journal of Marxism and Interdisciplinary Inquiry, 4(1), 7–22.
  • Castells, M. (2010a). End of Millennium: The Information Age: Economy, Society, and Culture| (Vol. 3). John Wiley & Sons.
  • Castells, M. (2010b). The Rise of the Network Society, Vol. I. Oxford. Retrieved from http://scholar.google.com/scholar?hl=en&btnG=Search&q=intitle:The+Rise+the+Network+Society#5
  • Castells, M. (2011a). The power of identity: The information age: Economy, society, and culture (Vol. 2). John Wiley & Sons.
  • Castells, M. (2011b). The rise of the network society: The information age: Economy, society, and culture (Vol. 1). John Wiley & Sons.
  • Cavalli-Sforza, L. L., Menozzi, P., & Piazza, A. (1994). The history and geography of human genes. Princeton university press.
  • Lipman, V. (2012). The world’s most active Twitter city? You won’t guess it’, Forbes, 30 December.
  • Lubenow, J. A. (2012). Public Sphere and Deliberative Democracy in Jürgen Habermas: Theorethical Model and Critical Discourses. American Journal of Sociological Research, 2(4), 58–71. https://doi.org/10.5923/j.sociology.20120204.02
  • Tapscott, D. (2009). Grown up digital (Vol. 361). McGraw Hill New York.