Mengoptimalkan Internet, Menuju Merdeka Belajar

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Oleh: Rio Febriannur Rachman, mahasiswa pascasarjana FISIP Universitas Airlangga, dosen Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang
Rio Febriannur Rachman, mahasiswa pascasarjana FISIP Universitas Airlangga, dosen Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi berbasis internet terjadi begitu cepat. Internet menguatkan urusan bisnis maupun ekonomi, sosialisasi, pendidikan, layanan publik, dan bidang lainnya[1]. Di era pandemi Covid-19, optimalisasi penggunaan media sosial, aplikasi percakapan, serta interaksi virtual sudah tak terhindarkan.

Internet menjelma kebutuhan bagi tiap individu. Mengacu pada data Internetworldstats, pada akhir Maret 2021, pengguna internet di tanah air mencapai 212,35 juta dengan estimasi total populasi sebanyak 276,3 juta jiwa. Berdasarkan survey agensi pemasaran We Are Social yang berkolaborasi dengan layanan manajemen konten Hootsuite, orang Indonesia rata-rata menggunakan internet selama delapan jam lima puluh dua menit dalam sehari.

Dari durasi tersebut, waktu yang paling banyak dipakai adalah untuk menghadapi layar media sosial, yakni, selama tiga jam empat belas menit. Di samping itu, mereka mengakses internet untuk mencari referensi informasi dari kanal berita maupun melalui layanan dokumen atau buku dalam jaringan. Ada pula yang menikmati konten video, audio, maupun melakukan permainan kolaboratif berbasis internet.

Di bidang pendidikan, proses pembelajaran telah diarahkan melalui media dalam jaringan. Apalagi, di era pandemi Covid-19, di mana urgensi pemanfaatan internet untuk pendidikan telah mencapai tingkat paling puncak. Sekolah maupun kampus lazim menyebarluaskan materi-materi dalam bentuk dokumen atau buku elektronik, konten video, audio, dan sejenisnya. Para guru maupun dosen dapat menambah wawasan dan pengetahuan melalui konten-konten yang tersedia di internet. Para siswa maupun mahasiswa bisa mengunduh atau menyimak materi kapan pun dan di mana pun. Pada gilirannya, baik siswa, mahasiswa, guru, dosen serta siapa pun juga telah ditopang teknologi untuk bisa belajar dengan bebas dan mengakses segala sumber ilmu pengetahuan di dunia maya.

Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi giat memberikan bantuan paket pulsa. Kementerian Komunikasi dan Informatika sigap mempersiapkan infrastruktur dalam jaringan. Meski memang, pemerintah tetap memiliki Pekerjaan Rumah. Eksekutif di level pusat maupun daerah harus memantau dan mengawasi sampai ke akar rumput implementasi kebijakan tersebut. Lembaga negara independen serupa Ombudsman maupun unit inspektorat di tiap instansi plat merah mesti aktif meneropong jalannya kegiatan pendidikan. Guna memastikan bahwa paket pulsa dan jaringan bagi siswa dan mahasiswa benar-benar tersedia.

Potensi media sosial

Terdapat banyak model media sosial dilihat dari fungsi dan cara penggunannya[2]. Ada yang bersifat kolaboratif seperti wikipedia, tempat menyampaikan pendapat seperti blog maupun mikroblog (twitter dan Instagram, termasuk di dalam model ini), saluran menyampaikan pendapat yang lebih luas dari pada blog karena punya fitur grup seperti facebook, penyedia konten seperti youtube, wahana permainan atau game online, dan dunia sosial virtual seperti second life. Eksis pula media sosial yang berwujud sarana menjalin hubungan dan berinteraksi tanpa tatap muka[3]. Beragam bentuk aplikasi percakapan maupun konferensi video semisal google meet dan zoom dapat dimasukkan kategori ini.

Model yang acap dipakai masyarakat demi menunjang proses pembelajaran di sekolah maupun di kampus antara lain, blog, penyedia konten, serta konferensi video. Dalam banyak kesempatan, para peserta didik atau mahasiswa diminta meninggalkan komentar di kolom bagian bawah dari konten materi, sebagai bentuk partisipasi, interaksi sekaligus presensi.

Media sosial memiliki kemampuan menyediakan jaringan, informasi, arsip, interaksi, simulasi sosial, dan keberadaan konten oleh pengguna[4]. Dalam konteks pembelajaran menuju kebebasan mendulang ilmu pengetahuan, keberadaan jaringan bisa dihubungkan dengan kemudahan mendapatkan sumber dari segala referensi. Informasi dari mana pun dapat diakses. Meski demikian, pengguna media sosial dituntut untuk sanggup menyeleksi mana informasi yang benar, salah, dan dapat diperdebatkan. Karakter pengarsipan di media sosial memiliki hubungan dengan fasilitas merekam atau bagaimana segala hal dapat terdokumentasi. Dalam konteks pembelajaran dalam jaringan, pengarsipan semacam ini menyederhanakan mekanisme pengawasan dan evaluasi. Adanya interaksi dan simulasi sosial menjadikan proses pembelajaran sekadar perpindahan dari yang tatap muka langsung menjadi virtual. Sedangkan adanya kanal untuk membuat konten sesuai keinginan, memungkinkan guru dan dosen membagikan bahan ajar atau perkuliahan secara leluasa. Kesimpulannya, media sosial punya potensi besar sebagai sarana menimba ilmu maupun memperkokoh pola pendidikan di era kekinian. (*)    


[1] Elvinaro Ardianto, “Kata Pengantar Dalam Komunikasi 2.0 Teoritisasi Dan Implikasi,” in Komunikas 2.0 Teoritisasi Dan Implikasi, ed. Fajar Junaedi (Yogyakarta: Asosisasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi, 2011).

[2] A M Kaplan and M Haenlein, “Social Media: Back to the Roots and Back to the Future,” Journal of Systems and Information Technology 14, no. 2 (2012): 101–104.

[3] David Holmes, Communication Theory: Media, Technology and Society (New York: Sage Publications Ltd, 2005).

[4] Rully Nasrullah, Media Sosial: Perspektif Komunikasi, Budaya, Dan Sosioteknologi (Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2015).