SISI LAIN DATA COVID-19 INDONESIA

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Acang

Kontributor Wiksadipa
Aktif di SymbolicID dan BangbangWetan

(pembacaan data Covid19 di Indonesia setelah Lebaran 2021 sebagai refleksi dan upaya berendah hati akan apa-apa yang tidak kita ketahui)

Prolog

Gelombang pandemi #Covid19 belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda dalam waktu dekat. Gelombang tingginya masih bergulung-gulung membawa apa saja yang ada di depannya. Menghempasnya ke pesisir-pesisir keangkuhan, kebebalan, ketidak-saling-pedulian, hingga pesisir ketertegunan kita atas akibat-akibatnya yang mengaduk emosi dan melumpuhkan rasio.

Tidak peduli apakah gulungan gelombang Covid19 ini dibaca sebagai denotasi atau konotasi, para korban yang syahid nyata adanya. Para tenaga kesehatan yang mendorong batas kemampuan dan empatinya, juga nyata adanya. Anak yang yatim, piatu, yatim-piatu. Orang tua yang ngungun sendiri. Mereka yang terbaring sendirian terengah-engah. Seorang bapak yang menghisap rokoknya dalam-dalam seusai tak lagi bekerja. Semua nyata adanya. Senyata benturan-benturan horizontal di masyarakat. Baik dalam konteks perbedaan pendapat, ataupun dalam benturan dalam pengertian literal.

Tulisan ini saya bangun diatas rasa hormat, takjub dan penghargaan atas semua peristiwa diatas. Juga diatas harapan meredanya pandemi ini, yang kita suarakan di endapan ruang dan waktu yang sunyi menjadi doa-doa dalam keyakinan tanpa henti. Namun juga tidak lantas terpeleset menjadi keangkuhan memastikan semuanya mewujud jadi kenyataan. Kepastian ada dalam genggaman tangan Tuhan. Dingin di-breakdwon olehNya dalam hukum-hukum alam yang tak punya pilihan lain selain tunduk.

Statistik

Tulisan ini sebenarnya adalah permohonan bantuan, khususnya kepada para statistician bagaimana interpretasi atas data yang ada. Pandemi Covid19 yang terjadi di era informasi ini, amat sangat terbantu oleh kecepatan pengumpulan data. Data yang kemudian diklasifikasi menjadi rangkaian informasi. Sehingga kemudian ditemukan hubungan-hubungannya menjadi pengetahuan. Dari database pengetahuan ini kemudian bisa ditentukan titik-titik mana yang menjadi perhatian dan kemudian masing-masing titik ditemukan lagi hubungannya menjadi wisdom. Bersyukur atas pencapaian kecepatan pengumpulan data dan distribusinya. Tidak terbayang kalau pandemi ini terjadi 100 atau 200 tahun yang lalu. Demikian pula dengan data yang saya dapat dari Our World in Data. Dengan keterbatasan dan sedikit kemampuan saya dengan Microsoft Excel, data tersebut saya fokuskan pada titik-titik dimana ada moment atau event tertentu yang berpotensi kerumunan. Sejak Lebaran tahun lalu, 2020 hingga momen Lebaran tahun ini. Saya kemudian coba membuat grafik-grafik untuk membantu “mempresentasikan” rangkaian informasi tersebut.

Grafik 01 | Penambahan kasus harian dan akumulasi kasus

Grafik pertama di atas adalah grafik penambahan kasus positif harian yang secara umum menunjukkan gelombang dengan kecenderungan terus naik pada belakangan ini. Penambahan kasus positif harian hingga 5 ribu kasus/hari terjadi sejak awal pandemi hingga akhir Nopember / awal Desember 2020. Namun angkanya kemudian naik menjadi 10 ribu kasus/hari sejak awal Desember 2020 hingga pertengahan Januari 2021, dan berakselerasi ke angka 15 ribu kasus/hari hingga awal Pebruari 2021, dan turun kembali setelahnya di kisaran 5 ribu – 10 ribu kasus/hari. Ini adalah puncak pertama pertama gelombang Covid19 yang menempatkan kapasitas layanan kesehatan kita dalam ujian. Namun sejak paruh ketiga bulan Juni 2021, angka ini melesat tinggi dan cepat bahkan hingga 20 ribu kasus/hari. Yang lebih mencemaskan, akselerasi ini terjadi hanya dalam durasi yang jauh lebih singkat jika dibandingkan dengan waktu-waktu sebelumnya. Dan lebih parah lagi, belum menunjukkan kecenderungan untuk turun. Tentunya perlu dicatat bahwa angka-angka ini sangat dipengaruhi oleh parameter lain, yaitu jumlah tes yang dilakukan.

Pada grafik total kumulasi kasus positif menunjukkan kenaikan kumulatif kasus ke 500 ribu kasus memerlukan waktu hingga ±9 bulan (Mar 2020 – Nop 2020). Kemudian naik menjadi satu juta kasus dalam waktu hanya 2 bulan saja, Des 2020 – Jan 2021. Dan terus naik menjadi 1,5 juta kasus dalam tempo relatif sama, yaitu 2 bulan hingga Mar 2021. Sebagaimana kita tahu, dalam 4 bulan kenaikan dari 500 ribu kasus menjadi 1,5 juta kasus adalah waktu-waktu dimana puncak gelombang pertama terjadi. Di rentang waktu ini, semua pihak mengerahkan upaya melandaikan kurvanya. Hasilnya bisa terlihat kemudian. Kenaikan kasus dari 1,5 juta ke 2 juta memerlukan waktu yang relatif lebih lama daripada sebelumnya, yakni 3 bulan. Meskipun demikian, kurva menunjukkan belakangan ini kenaikannya adalah yang paling menanjak daripada sebelum-sebelumnya. Dan sudah melewati angka 2 juta.

Grafik 02 | Penambahan kematian, kasus positif dan tes dalam 28 hari setelah momen/event

Grafik diatas adalah grafik penambahan kematian, kasus positif dan tes yang dilakukan dalam 28 hari setelah sebuah moment/event yang berpotensi kerumunan dan mobilitas, seperti libur panjang misalnya. Saya pribadi mengambil 28 hari dengan asumsi bahwa dalam rentang itulah virus SARS-CoV-2 yang menginfeksi di puncak sebuah momen/even terlihat pengaruhnya. ini Dengan detail sebagaimana disajikan dalam grafik tersebut, kita fokus pada puncak gelombang pertama yakni setelah libur panjang Tahun Baru 2021. 28 hari setelah libur panjang tahun baru tersebut (3 Jan 2021 – 31 Jan 2021) terjadi penambahan kematian sebesar 7.264 kasus, penambahan kasus positif sebesar 312.964 kasus dengan 1.166.149 tes yang dilakukan. Menarik melihat moment ini, ia didahului oleh event Pilkada dan diikuti oleh momen libur panjang Tahun Baru Imlek. Ketiga momen ini terjadi berurutan dalam kronologi waktu.

Kemudian kita lihat pada 28 hari setelah momen Lebaran 2021 yang jatuh pada 15 Mei 2021. Dengan berakhirnya pemberlakuan penyekatan pada 17 Mei 2021, 28 hari setelah lebaran saya ambil dari tanggal 18 Mei hingga 15 Juni 2021. 28 hari setelah libur lebaran ini terjadi penambahan kematian sebesar 4.803 kasus, penambahan 179.478 kasus positif dengan 1.650.328 tes yang dilakukan. Angka-angka ini jika dibandingkan dengan puncak gelombang pertama setelah libur tahun baru 2021 relatif lebih rendah, dan menunjukkan perbaikan upaya dalam tracing dan testing. Dengan penambahan jumlah tes yang lebih tinggi setelah Lebaran 2021, menunjukkan penambahan kasus positif dan kematian yang lebih rendah daripada setelah libur tahun baru 2021. Namun, perlu menjadi perhatian bahwa dengan parameter 28 hari, cut-off data setelah lebaran 2021 dalam grafik ini adalah pada 15 Juni 2021; yang mana dari grafik penambahan kasus positif harian sebelumnya ada di area 5.000-10.000 kasus/hari. Padahal dari grafik penambahan kasus positif harian tersebut pula kita bisa melihat kenaikan eksponensial yang tinggi melebihi 10.000 kasus/hari sejak pertengahan Juni 2021. Penting nantinya untuk memproses data hingga akhir Juni nanti untuk melihat patternnya. Mungkin di kesempatan tulisan berikutnya.

Di sinilah utamanya saya mohon bantuan para statistician terhadap pembacaan grafik ini. Dengan mengandaikan bahwa data dari Our World in Data ini valid dan reliable, terlihat ada sedikit anomali pada momen setelah lebaran 2021 ini. Kecuali kita kemudian memperpanjang parameter 28 hari tadi, yang berarti semuanya harus dianalisa ulang kembali. Dari pandangan subjektif, anomali ini memunculkan rasa kekhawatiran sebenarnya -alih-alih curiosity, tentang seberapa besar sebenarnya pengaruh aktifitas (mobilitas dan kerumunan) di seputaran lebaran 2021 terhadap kenaikan kasus Covid19 setelahnya. Saya belum sempat untuk menganalisa data Google Mobility Report yang saya punya untuk “menguji” pengaruh mobilitas dan kerumunan tersebut. Saya pertebal kata seberapa besar karena pengaruh itu pasti ada karena sudah scientifically proven mengenai cara penyebaran virus SARS-CoV-2 ini.

Namun demikian, dengan Covid19 yang masih fresh from the oven ini, alias baru, masih banyak hal-hal lain yang mungkin belum kita ketahui. Sebuah adagium “tidak ada bukti tidak sama dengan bukti tidak ada yang pernah disampaikan Sabrang MDP, juga seyogyanya berlaku. Salah satu yang menjadi perhatian adalah karakteristik strain virus ini yang mudah sekali bermutasi menjadi varian-varian baru dengan karakteristik yang spesifik. Kecepatan bermutasi virus ini mungkin hanya bisa diimbangi oleh mutasi sikap para politisi, demikian sebuah anekdot. Dalam artikel di Tirto 26 Juni 2021, Kemenkes sudah menyatakan 254 temuan varian Delta di 9 provinsi. Rinciannya adalah 1 kasus di Gorontalo; 2 kasus di Banten; masing-masing 3 kasus di Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur; 18 kasus di Jawa Timur; 48 kasus di Jawa Barat; 80 kasus di Jawa Tengah dan 96 kasus di DKI Jakarta. Dengan kenyataan tersebut mungkin bisa menambah pertanyaan pada metode ilmiahnya mengenai seberapa besar pengaruh varian ini dalam kenaikan kasus, di samping mobilitas dan kerumunan tadi. Selain varian Delta, bagi saya pribadi juga ada yang menggelitik yakni cuaca di Indonesia dalam bulan Juni yang disebut sebagai kemarau basah akibat fenomena Indian Ocean Dipole. Mungkin setelah kepergian Sapardi, hujan di bulan Juni menjadi mudah terjadi. Dan jamak diketahui perubahan cuaca secara ekstrem juga berpengaruh pada daya tahan tubuh seseorang. Apakah ini juga menjadi “kontributor” pada kenaikan kasus sepertinya juga layak untuk diperhatikan.

Grafik 02 | Penambahan kematian, kasus positif dan tes dalam 28 hari setelah momen/event

Dari data mentah yang saya miliki sampai tanggal 24 Juni 2021, saya mencoba menarik mundur 50 hari untuk saya bandingkan dengan puncak gelombang pertama. Hasil grafiknya adalah sebagaimana diatas. Pada grafik pertama jumlah kumulatif kasus positif dalam 50 hari menunjukkan perbedaan yang jelas. Grafik 50 hari yang pertama (6 Mei 2021 – 24 Juni 2021) tampak melandai di awal, kemudian mulai menanjak agak ekstrem mulai hari ke-40. Sedangkan pada 50 hari 1 Januari 2021 – 19 Pebruari 2021 terlihat jelas menanjak di awal dan mulai melandai sejak hari ke-40.

Kemudian grafik di bawahnya yaitu penambahan kasus positif harian dalam 50 hari juga menunjukkan perbedaan yang lebih jelas. Menanjak dan melandainya penambahan kasus positif harian malah terlihat berkebalikan. Kecenderungan penambahan kasus positif harian dalam 50 hari periode 1 Januari 2021 – 19 Pebruari 2021 menunjukkan seperti gunungan (cembung), mangkok tertutup. Sedangkan penambahan kasus positif harian dalam 50 hari periode 6 Mei 2021 – 24 Juni 2021 menunjukkan sebaliknya, yakni mangkok terbuka (cekungan). Sudah jelas ini mengkhawatirkan dan membutuhkan perhatian lebih.

Epilog

Pandemi ini, sudah pasti kita sepakat, banyak mengajarkan hal-hal baru yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Such in a hard way, sayangnya. Ini juga secara tersirat menunjukkan bahwa masih banyak yang kita tidak dan belum tahu, sehingga tidak pernah berhenti belajar. Pandemi ini, sebagaimana percepatan teknologi informasi sebelumnya, juga meletupkan disrupsi-disrupsi. Bahkan pandemi memaksa kita, sebenarnya, untuk kembali menengok hal-hal substantif dan fundamental dalam kehidupan. Toto Rahardjo, seorang aktifis sosial senior, berkelakar bahwa baru hanya Covid19 ini yang bisa memaksa orang untuk tidak sholat di masjid, memaksa orang tidak sekolah dan sederet pemaksaan-pemaksaan lainnya.

Dengan keawaman tersebut, tentunya harus disertai dengan hati yang luas untuk bersiap menampung materi-materi baru dari mata pelajaran Covid19 ini. Semoga yang dituliskan disini juga bisa “menyumbangkan” sesuatu untuk dipelajari bersama.

Tetap jaga protokol kesehatan 5 M sebagai bentuk penghargaan dan kepedulian kita terhadap sesama. Semoga sehat senantiasa.

Acang

Kontributor Wiksadipa
Aktif di SymbolicID dan BangbangWetan