Harapan Baru

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Tulisan ini merupakan rangkuman diskusi tim editor Wiksadipa.com bersama Sabrang Mawa Damar Panuluh. Membahas tentang perkembangan berlimpahnya informasi sebagai konsekuensi dari perkembangan teknologi informasi.

Penulis : Suko Widodo, Mohammad Hasanudin dan Sabrang Mawa Damar Panuluh.

bagian terakhir dari enam tulisan

Menarik mencermati bahwa dari engagement di platform media sosial ternyata dimanfaatkan untuk mengkurasi informasi, yang bagi para penggunanya memberikan ilusi merasa lebih terikat secara personal. Meskipun pada ujungnya disalahgunakan untuk kepentingan sempit dan komersial belaka oleh penyedia platform, setidaknya saat ini. Dan di ujung lain di sisi penggunanya, tidak menyadari bahwa interaksi dan feedback yang diberikannya ternyata menjadi bumerang baginya, seperti filter bubble dan echo chamber tadi. Sedangkan bagi masyarakat secara umum, selain pengaruh dalam kehidupan sosial, haknya untuk mendapatkan informasi berkualitas tenggelam karena yang memenuhi jagat informasi yang muncul di depannya adalah hasil kurasi berdasarkan pola engagement yang -secara instingtif- lebih bersifat emosional daripada rasional. Yang lebih bersifat preferensi daripada nilai manfaatnya.

Tantangan sekaligus harapan baru di tahun-tahun mendatang bahkan jauh lebih menantang. Yakni menyediakan lebih banyak lagi informasi berkualitas sehingga kepercayaan publik meningkat dan menjadi lebih kohesif satu sama lain. Menarik menunggu apakah engagement ini bisa diaplikasikan tidak hanya dalam media sosial, melainkan pada platform media dan kanal berita umum. Yang tidak hanya “sekedar” mengeksploitasi bias kognitif pengguna, melainkan “memaksa” pengguna menemukan bobot kebermanfaatan sebuah informasi. Bersamaan dengan itu, kita layak dan pantas untuk terus menitipkan prasangka baik masih ada pengguna internet dan konsumen informasi yang melakukan engagement terhadap informasi berdasarkan apa isi informasinya, bukan melulu karena siapa sumber atau penyebar informasinya. Melakukan engagement secara lebih rasional dan tidak semata-mata reaktif terhadap sebuah informasi. Jika kedua hal ini bertemu tumbu ketemu tutup dari sisi produsen dan konsumen informasi, maka hasil jurnalisme kuratorial berupa informasi berkualitas dan terpercaya adalah buah yang merupakan keniscayaan. Dari ini semua, kita bisa mendulang trust dari engagement, tidak hanya berhenti mendulang profit belaka. Semoga.