Hidup Merdeka Belajar!

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Aryo Seno Bagaskoro
Mahasiswa FISIP Universitas Airlangga

Publik berbondong-bondong memasang twibbon. Pelajar, mahasiswa, dosen, guru, bahkan pedagang buku dan politisi, semuanya memasang twibbon dengan pose dan gaya foto yang berbeda-beda. Narasi yang tertulis di twibbon tersebut berbunyi, Serentak Bergerak, Wujudkan Merdeka Belajar. Narasi yang sama yang digaungkan sebagai semangat Hari Pendidikan Nasional 2021 yang mengusung tema tersebut. Bisa jadi, ini salah satu strategi Mas Menteri Nadiem Makarim untuk merawat memori kolektif publik tentang semangat Merdeka Belajar yang sempat ramai dibicarakan di awal masa jabatannya sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Apalagi kini di pundak kementerian yang dipimpinnya, ditambah dua beban amanah baru. Riset dan Teknologi. Harus ada keyakinan publik bahwa api semangat Merdeka Belajar tersebut belum mati. Atau berubah.

Pasalnya, alih-alih kian merdeka, banyak orang yang makin apriori dengan kenyataan di dunia pendidikan yang kini terjadi. Masalahnya ada pada tantangan pandemi. Pandemi tidak identik dengan merdeka. Sejak awal Maret tahun lalu hingga sekarang, bukan kemerdekaan yang kita pekikkan, tetapi keterbatasan yang menghantui. Pembatasan Sosial Berskala Besar, pembatasan jam malam, pembatasan jumlah pengunjung, bahkan pembatasan kegiatan belajar mengajar. Atas nama kesehatan, orang harus menahan diri untuk tidak beraktivitas, tidak bereksplorasi, tidak bebas. Di dalam proses belajar, tentu banyak orang merasa terhambat.

Salah satu yang mengeluh paling keras adalah orangtua. Para orangtua yang terbiasa melihat anak-anak belajar di ruang kelas dari pagi hingga sore, lalu dilanjutkan belajar di lembaga kursus dari sore hingga malam, kini harus betah melihat anak-anak berada di rumah, di depan laptop seharian penuh. Dengan tugas-tugasnya yang berjibun dan boros kuota internet yang tak henti-hentinya. Belum lagi biaya pendidikan tidak murah. Uang sekolah tetap harus dibayar di tengah prahara ekonomi yang agak macet. Para pelajar pun stres, depresi. Keluhan-keluhan utamanya : apa yang dipelajari tidak bisa dipahami. Tentu saja harus melihat layar seharian penuh bukan perkara mudah untuk fokus. Juga sudah pasti membosankan. Guru-guru yang mengajar juga tidak mudah. Ketiadaan interaksi dianggap menyulitkan evaluasi belajar. Pendidikan terasa sebagai sesuatu yang sangat memberatkan di tengah kondisi pandemi. Ini bukan Merdeka Belajar.

Sebenarnya, sedari awal pandemi adalah momentum emas untuk membumikan Merdeka Belajar dengan lebih mudah. Ki Hajar Dewantara, yang fotonya kita pasang dimana-mana tiap tinggal 2 Mei, sudah mewanti-wanti sejak dulu. Katanya, “setiap orang adalah guru, setiap rumah adalah sekolah.” Kalau dipikir-pikir, bukankah itu prinsip utama Merdeka Belajar? Maka di tengah situasi seperti sekarang, bukan mustahil kita bisa membumikan semangat tersebut dengan lebih mudah.

Masalahnya, titik tekannya ada pada pola pikir dan pemahaman. Apabila kita siap untuk mengubah cara pandang kita tentang pendidikan, baru prinsip-prinsip itu akan jadi lebih mudah diterima. Contoh yang paling sederhana, alih-alih menumpuk latihan soal kepada siswa, Bapak Ibu guru bisa mencari alternatif penugasan lain dengan memanfaatkan situasi pandemi. Para siswa (juga mahasiswa), baik secara individu maupun kelompok, bisa diajak untuk mencari solusi dan mencipta inovasi berdasarkan persoalan-persoalan yang sedang dihadapi di lingkungan masing-masing. Misalnya, masalah perekonomian Bapak Ibu kantin yang terganggu menyusul ditutupnya sekolah secara fisik. Atau persoalan minimnya penggunaan masker di kalangan anak-anak muda pada saat nongkrong. Merangsang tumbuhnya inovasi semacam ini bisa diawali dari hal-hal konkret yang ada di sekitar kita. Barulah kemudian muatan kurikulum yang ada di kelas dipakai untuk membedah persoalan yang dihadapi para peserta didik di lapangan untuk memudahkan mencari solusi terbaik. Sehingga para siswa tidak perlu merasa terbeban oleh beban belajar yang tak relevan dengan kondisi kesehariannya, melainkan merasa tertantang untuk memuaskan rasa ingin tahu dan rasa ingin berbuatnya dengan belajar sebanyak-banyaknya. Evaluasi pembelajaran pun bisa diambil baik dari sudut pandang proses munculnya solusi, hingga kualitas solusi yang ditawarkan.

Pembaharuan semacam ini sederhana, tapi bisa berdampak sungguh besar. Para pelajar diajak untuk secara langsung mempraktekkan ilmu yang dicarinya pada persoalan di lapangan, para orangtua merasa terbantu dengan anak-anaknya yang makin inovatif, bersemangat, dan tidak lesu, para guru tidak harus merasa lelah mengajar kelas virtual yang “mati”. Pendidikan terasa hadir di tengah-tengah persoalan bangsa.

Abad ke-21 menuntut semua sendi kehidupan bangsa untuk mau adaptif terhadap realita yang ada. Untuk cepat berubah dan tidak memaksakan kehendak dengan cara-cara lama. Kini, bangsa Indonesia sedang menghadapi krisis pandemi Covid-19, sebagaimana semua bangsa lain di dunia. Jika prinsip Merdeka Belajar mau bertahan, hadirlah sebagai bagian dari solusi. Apabila pendidikan merdeka ala Mas Menteri bisa dihadirkan sebagai solusi dan dimaknai ulang sejak awal, mungkin kita tidak perlu tergesa-gesa membuka kembali sekolah dan kampus bulan Juli besok.

Tapi tak apa-apa. Masih ada waktu. Merdeka Belajar belum mati. Ia hanya perlu pancingan yang tepat untuk hidup dan menerangi. Namun saya yakin di antara daftar langkah-langkah strategis yang disusun oleh Mas Menteri untuk menuju ke arah sana, bergerak serentak memasang twibbon bukan salah satunya.