Pageblug: Bagaimana Orang Jawa Zaman Dahulu Menghadapinya?

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Oleh: Purnawan Basundoro

Pageblug oleh masyarakat Jawa zaman dulu dipahami sebagai situasi dimana terjadi kesusahan yang berkepanjangan, akibat bencana alam, perang, atau penyakit yang melanda dalam jangka waktu yang cukup lama dan menjangkiti banyak orang. Namun dalam banyak kasus, pageblug mengerucut pada kondisi munculnya penyakit yang menjangkit secara masal dan berujung pada kematian yang beruntun. Orang Jawa zaman dulu menggambarkan pageblug sebagai situasi di mana orang-orang mengalami kondisi esuk lara sore mati, pagi sakit sore meninggal dunia, sehingga menimbulkan suasana mencekam berkepanjangan.

Dalam kondisi semacam itu, ketika masyarakat Jawa belum mengenal dunia kedokteran dan pengobatan modern, apa yang mereka lakukan dalam menghadapi pageblug?

Penyebab Pageblug

Ketika masyarakat belum mengenal ilmu tentang penyakit dan dunia pengobatan, penyakit atau orang sakit selalu dihubungkan dengan hal-hal gaib. Sakit yang melanda masyarakat secara beruntun dianggap sebagai kemarahan dari mahluk-mahluk gaib. Menurut kepercayaan masyarakat Jawa zaman dulu, pageblug bisa disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, ada orang jahat yang menebar kekuatan gaib yang buruk untuk membalas dendam. Ada orang-orang sakit hati yang membalas dendam dengan cara menebar teror dalam bentuk penyakit. Contoh kasus semacam itu bisa dibaca dalam cerita rakyat Calon Arang yang berkembang sekitar seribu tahun yang lalu. Cerita rakyat yang tertulis dalam Serat Calonarang tersebut menceritakan kehidupan seorang janda yang tinggal di Desa Girah pada masa pemerintahan Raja Airlangga di Kediri, yang bernama Calonarang. Calonarang digambarkan sebagai seorang penyembah Durga, dan memiliki karakter jahat.

Dikisahkan, Calonarang memiliki seorang anak gadis bernama Ratna Manggali yang berparas cantik. Namun, kecantikannya tidak pernah menarik minat para lelaki untuk menikahinya dikarenakan mereka takut dengan ibunya yang jahat. Kondisi Ratna Manggali yang menjadi perawan tua menyebabkan Calonarang marah besar. Ia meneror warga dengan ilmu hitam, mengirim tenung yang merusak tanaman pangan, serta menebar penyakit yang membunuh warga dan ternak-ternak warga. Pageblug terjadi di Desa Girah dan meluas ke desa-desa lain di Kerajaan Kediri. Krisis pangan terjadi, penyakit merajalela, kematian mengintai warga setiap saat. Krisis berkepanjangan terjadi di Kerajaan Kediri

Kedua, pageblug yang terjadi akibat yang mbahu reksa desa marah karena sesuatu hal. Dalam kepercayaan kuno, desa-desa selalu dilindungi atau dijaga oleh kekuatan gaib yang bersemayam di makam-makam desa, di batu besar, di sendang (sumber air), di pohon-pohon besar, atau di tempat lain yang keramat. Kekuatan gaib itulah yang dianggap yang mbahu reksa desa. Menurut kepercayaan kuno, yang mbahu reksa desa adalah roh nenek moyang atau roh tokoh pembuka desa, yang babat alas. Pada hari-hari tertentu warga desa harus memberi sesaji, dan satu tahun sekali diadakan ritual bersih desa untuk menghormati roh-roh tersebut.

Kekuatan-kekuatan gaib tersebut merupakan pelindung bagi warga desa setempat, namun pada kondisi tertentu juga bisa sebaliknya. Menurut kepercayaan orang Jawa zaman dulu, roh-roh yang bersemayam di desa mereka bisa marah dan menebar bencana. Jika hal tersebut terjadi maka pageblug akan melanda desa, panen bisa gagal, penyakit menyebar ke mana-mana menjemput ajal warga setempat secara beruntun. Kemarahan yang mbahu reksa desa bisa terjadi karena warga desa lupa memberi sesaji, keliru memberi sesaji, atau ada keturunan dari yang mbahu reksa yang masih hidup tersakiti oleh perilaku warga desa lainnya.

Menurut Babad Tanah Jawi, Kerajaan Mataram juga pernah dilanda pageblug. Bencana alam terjadi di mana-mana, bahan makanan sulit didapat, kelaparan terjadi, menyakit menyebar menyebabkan kematian. Setiap hari orang meninggal terjadi di berbagai tempat. Melihat kondisi kerajaan yang sangat parah, Raja kemudian mengutus Pangeran Puger untuk mencari cara agar pageblug segera sirna. Pangeran Puger kemudian melaksanakan perintah tersebut, dengan menyamar sebagai peminta-minta ia berkeliling ke berbagai tempat melihat kondisi rakyat Mataram. Pangeran Puger melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana penderitaan rakyat Mataram pada waktu itu.

Setelah cukup lama berkeliling, ia kemudian pulang ke Kartasura dan langsung ke masjid agung. Di sana semalam suntuk ia berdoa memohon kepada Allah agar pageblug segera sirna. Menjelang pagi tiba-tiba dari atas jatuh alat penakar beras kecil di hadapannya. Dengan alat itu pada pagi harinya Pangeran Puger pergi ke pasar, tetap dengan pakaian menyamarnya. Di sana ia menawar beras dengan harga yang sangat murah sehingga ia dibentak dan dimarahi oleh penjual beras. Hal tersebut ia lakukan setiap hari sampai beberapa hari. Rupanya setelah Pangeran Puger dimarah-marahi oleh rakyat jelata, pageblug perlahan-lahan sirna.

Menghadapi Pageblug

Sebagaimana tekah dijelaskan di atas, terjangkitnya penyakit yang menyebar dan merenggut nyawa banyak orang, oleh orang Jawa zaman dulu dipahami sebagai akibat dendam seseorang atau kemarahan yang mbahu reksa desa. Mereka tidak pernah memahami bahwa penyakit disebabkan oleh hal-hal tertentu yang bisa mengganggu organ tubuh secara akut, seperti virus, bakteri, atau kerusakan organ tubuh oleh sebab lain. Karena pemahaman mereka belum sampai pada penyebab ilmiah penyebab penyakit, maka pageblug juga dihadapi dengan cara yang sama. Jika pageblug tersebut disebabkan oleh dendam seseorang, maka orang tersebut harus dicari kelemahannya agar bisa dilumpuhkan. Namun jika pageblug terjadi akibat ulah yang mbahu reksa, maka caranya adalah merayu yang mbahu reksa tersebut agar menghentikan terornya.

Pada kasus pertama yang terjadi pada peristiwa pageblug di Kerajaan Kediri yang disebabkan oleh dendam Calonarang, cara yang ditempuh adalah dengan melumpuhkan Calonarang. Tidak mudah melumpuhkannya, karena Calonarang merupakan perempuan sakti yang kesaktiannya bersumber pada kitab yang selalu ia bawa. Doa-doa kesaktiannya bersumber pada kitab tersebut. Untuk merebut kitab itu, maka diadakan pernikahan “politik”. Empu Baradah seorang sesepuh, alim-ulama setempat menikahnya salah satu muridnya yang bernama Bahula dengan Ratna Manggali. Setelah itu pada sebuah kesempatan Bahula berhasil membaca kitab milik Calonarang sehingga diketahui kelemahannya.

Setelah tahu apa kelemahan Calonarang, Mpu Baradah mendatangi Calonarang, di situlah terjadi pertempuran yang berakhir pada kekahalahan Calonarang. Sesudahnya, Mpu Baradah berkeliling kerajaan untuk “membersihkan” segala pageblug yang telah ditebarkan oleh Calonarang. Pageblug bisa dihentikan dan Kerajaan Kediri tenteram kembali.

Pada kasus tersebut, pelibatan orang pintar alim-ulama, dalam hal ini Mpu Baradah, sangat diperlukan untuk menghalau pageblug. Orang pintar adalah seseorang yang memahami penyebab terjadinya pageblug, sehingga ia mampu meredam meluasnya pageblug tersebut, dan kemudian menghentikannya. Setelah berhasil mengalahkan Calonarang, Mpu Baradah berkeliling kerajaan sambil menebarkan air suci untuk menyucikan kembali wilayah-wilayah yang telah mendapat pengaruh buruk dari tenung yang ditebar oleh Calonarang.

Pada kasus berikutnya, di mana pageblug disebabkan oleh kemarahan yang mbahu reksa desa atau mbahu reksa negara, maka caranya menghentikan adalah merayunya agar yang mbahu reksa menghentikan amarahnya. Seluruh warga desa harus minta maaf kepada roh-roh yang bersemayam di desa mereka.

Ahmad Tohari dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk menceritakan bagaimana warga desa, di mana Srintil kecil tinggal, harus meredam terjadinya pageblug wuru bongkrek yang melanda desa setempat.Latar belakang kejadian yang diceritakan oleh Ahmad Tohari memang bukan Jawa di masa yang amat lama, tetapi kejadian tahun 1950an. Namun demikian suasana kultural yang diceritakan adalah suasana yang bertautan dengan masa yang amat lama ketika orang-orang setempat masih percaya dengan roh-roh gaib sebagai yang mbahu reksa desa.

Ketika kematian massal melanda Dukuh Paruk akibat keracunan tempe bongkrek, Sakarya sebagai tetua desa menyadari bahwa kejadian itu tentu berkaitan erat dengan roh atau arwah Ki Secamenggala, moyang orang-orang Dukuh Paruk yang telah lama meninggal. Mungkin ada perilaku tidak baik dari orang-orang Dukuh Paruk yang menyebabkan arwah Ki Secamenggala marah sehingga menebar pageblug di desa kecil tersebut.

Tindakan yang dilakukan oleh Sakarya sebagai tetua desa adalah mengunjungi makam Ki Secamenggala. Di sana, di pekuburan tengah desa yang di kanan-kiri terdapat onggokan tanah yang baru diurukkan ke makam-makam warga desa yang terkena pageblug, persis di tengah-tengahnya ia bersemedi, memohon ampunan kepada arwah Ki Secamenggala agar anak-turunnya diampuni. Selepas berdoa di makam, ia turun ke perkampungan Dukuh Paruk, berkeliling sambil menyapa sanak saudara yang masih hidup.

Tepat tengah malam, Sakarya menuju ke tepian kampung. Di sana di tengah keheningan malam ia mencoba menghubungkan batinnya dengan arwah Ki Secamenggala. sarana yang ia gunakan adalah sebuah tembang, kidung tua. Ia menyanyikan kidung tersebut sepenuh hati, lamat-lamat membuat bulu roma berdiri bagi yang mendengarkannya:

Ana kidung rumeksa ing wengi, teguh ayu luputing lara, luputa bilahi kabeh, jin setan datan purun, paneluhan datan ana wani, miwah penggawe ala, gunaning wong luput, geni atemahan tirta, maling adoh tan ana ngarah mring mami, guna duduk pan sirna…

“Adalah gita penjaga sang malam. tetaplah selamat, lepas dari segala petaka. Luputlah segala mara bencana. Jin dan setan takkan mengharu biru, teluh takkan mengena. Serta segala perilaku jahat, ilmu para manusia sesat. Padam seperti api tersiram air. Pencuri takkan membuatku menjadi sasaran. Guna-guna serta penyakit akan sirna…”

Tembang atau kidung Dandanggula tersebut di atas dipercaya oleh orang-orang Jawa zaman dulu sebagai sarana untuk menolak bala atau untuk menghentikan pageblug yang tengah melanda. Doa-doa orang Jawa yang belum bersentuhan dengan keislaman secara mendalam memang ditujukan kepada kekuatan gaib yang dianggap mbahu reksa desamereka. Dengan tembang tersebut diharapkan roh-roh atau arwah yang marah dan menebar pageblug menjadi berhenti marahnya. Pageblug pun diharapkan segera sirna.

Selain dengan tembang Dandanggula, terdapat pula doa-doa khusus yang dilafalkan oleh orang-orang dalam menghadapi pageblug. Di dalam Kitab Primbon Betaljemur Adammakna, terdapat donga (doa) khusus yang harus dibaca saat terjadi pageblug.

Ashadu sadat mutahar, si bapa kang murba wisesa, si biyung kempaling iman, si anak pencaring jaman. Pangeran panatagama, kang bisa ngrata jagat, nyirep sekehing penyakit. Pangeran karya kekuna, kang tulen sajroning tulis, kang urip tan kena lara pati, urip langgeng purbawasesa, ya ingsun kang bisa ngucapake pasangat mutahar, ya ingsung Pangeran Purbaya, ingsun kawulane. Ashadu sadat sangyang, kawula bumi jung langit, apa isine, manungsa sajatining karsa, herlis sajatining sidik amanat tableg, herna sajatining lawang rat gumilang. Ashadu sadat rohiman jati, sabenere manungsa maya. Pangeran puter siwalan jatining tunggal. Ashadu sadat Allah, tuhu yahuwa. Mukamat warangkaning Allah, bismilah tanpa kawitan, sadat tanpa wekasan, kang urip tan kena ing lara pati, urip langgeng salawase.[1]

Doa tersebut dibaca 40 kali, sambil berdiri di tengah-tengah halaman rumah pada tengah malam. Selain menembangkan kidung Dandanggula dan doa di atas, terdapat pula tindakan-tindakan yang harus dilakukan dalam menghadapi pageblug. Salah satunya dengan membuat sesaji khusus, dalam bentuk tumpeng kecil, yang sering disebut puncet, dilengkapi dengan bunga sesaji, minuman kopi, rokok, serta kemenyan yang dibakar. Sesaji biasanya ditaruh di bagian-bagian di mana terdapat roh-roh dan arwah bersemayam. Di atas pintu rumah ditaruh penolak bala yang terdiri atas pucuk daun salak yang ditekuk dan ditusuk bithing, padi beberapa gagang, serta tanda silang dari kapur kinang atau enjet.

Penutup Apa yang saya ceritakan di atas adalah kepercayaan lama, atau kearifan lokal yang saat ini sudah tidak dijalankan lagi oleh sebagian besar masyarakat Jawa. Sejak ilmu tentang penyakit dan dunia kedokteran dikenalkan kepada kita oleh orang-orang Barat, kepercayaan kuno tentang penangkal pageblug berangsur-angsur hilang dan tidak dipercaya lagi oleh sebagian besar masyarakat. Satu-satunya ikhtiar kita dalam menghadapi segala macam penyakit adalah bersandar pada dunia kedokteran modern. Kepada merekalah kita percaya sepenuhnya. Semoga merebaknya virus corona atau Covid-19 bisa segera berakhir.


[1] Doa tersebut terdapat dalam buku Primbon Betaljemur Adammakna, hlm. 229