Mendulang Trust dari Engagement

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Tulisan ini merupakan rangkuman diskusi tim editor Wiksadipa.com bersama Sabrang Damar Mawa Panuluh. Membahas tentang perkembangan berlimpahnya informasi sebagai konsekuensi dari perkembangan teknologi informasi.

Penulis : Suko Widodo, Mohammad Hasanudin dan Sabrang Damar Mawa Panuluh.

bagian kelima dari enam tulisan

Pagi hari sebelum berangkat bekerja, Pak Polan masih duduk di teras rumah ditemani secangkir kopi yang diracik istrinya. Di tangannya terbentang lembaran kertas yang di dalamnya termuat berita dan informasi. Ia menjalani rutinitas ini tanpa harus dibayangi kekhawatiran kemacetan lalu-lintas ketika berangkat kerja nanti.

Gambaran diatas adalah frame yang biasa ditemui setiap pagi hampir di seluruh pemukiman urban dan perumahan, dua dekade lalu. Hilir mudik loper koran mengantarkan harian dari rumah ke rumah. Setiap pelanggan kemudian mengasup informasi yang bisa disebut “seragam” di hari itu. Segala bentuk reaksi sesaat, baik yang bersifat rasional, terlebih lagi yang bersifat emosional, hanya bisa disampaikan secara terbatas dan tidak langsung kepada sumber berita atau redaksi dari surat kabar yang bersangkutan. Interaksi langsung dan real time dengan sumber berita atau sesama pembaca juga masih sangat terbatas.

Kehadiran internet, dan kemudian dengan media sosial, merubah segalanya. Digital Global Review 2020 oleh We Are Social dan Hootsuite pada awal 2020 menunjukkan rata-rata pengguna internet menghabiskan 6 jam lebih dimana 2,5 jam di antaranya adalah menjelajahi media sosial. Hal ini makin menegaskan apa yang pernah ditulis Nicole Martin dalam How Social Media Has Changed How We Consume News 2018 lalu bahwa kehadiran media sosial telah menggeser pola kita dalam mengonsumsi berita/informasi. Dalam tulisannya, ia menyebut hampir 64.5% pengguna internet mendapatkan informasi breaking news dari platform media sosial daripada media konvensional. Dalam survey saat itu, bahkan 50% pengguna internet mendapatkan informasi terbaru di media sosialnya sebelum mendapatkannya di saluran media umum. 57% kenaikan traffic pada laman media dan berita juga karena referral dari media sosial.

Namun demikian, terjadi penurunan pada jumlah atau seberapa banyak berita yang dibaca. Sebagian besar pengguna hanya melihat judul beritanya saja atau menonton sekilas videonya. Rata-rata pengunjung hanya akan membaca sebuah artikel dalam 15 detik atau kurang, sedangkan video online hanya akan dilihat dalam 10 detik saja. Maka apa yang disajikan dalam 10 atau 15 detik pertama akan menjadi momen paling menentukan apakah pengguna akan melanjutkannya atau tidak. Ini adalah tantangan bagi para content creator saat ini, atau ruang redaksi pada institusi media konvensional.

Engagement

Platform media sosial tidak hanya berhenti di situ. Dibandingkan dengan media konvensional, penggunanya bisa langsung merespon sebuah informasi saat itu juga sebagai bentuk keterlibatan dan interaksi. Berkah dari para desainer UI/UX khususnya untuk perangkat mobile/gadget yang semakin memudahkan interaksi antar pengguna dalam sebuah platform. Ini setidaknya terbaca dari platform media sosial Facebook, dimana 98% penggunanya mengaksesnya dari perangkat telepon pintar masing-masing. Interaksi dalam platform media sosial ini lebih dikenal dengan istilah engagement karena berlangsung dua arah. Jenn Deering Davis (2016) membagi engagement ini setidaknya dalam empat bentuk. Pertama, Pengakuan (acknowledgement). Pola interaksi berbentuk pengakuan ini adalah reaksi atas informasi (content), biasanya berupa apresiasi yang diwakilkan pada emoji atau tombol like, love, favourite, dan sebagainya. Kedua, Amplifikasi (amplification). Pola ini menyebarkan atau mengamplifikasi sebuah informasi dengan membagikannya kembali, seringkali lintas platform. Ketiga, Asosiasi (association). Pola ini adalah respon terhadap informasi (content) misalnya memberikan komentar atau sanggahan atau tambahan terhadapnya. Dan keempat, Aksi (action) yakni respon lanjutan sebagai akibat dari informasi yang ada, misalnya mengunduh, menelusuri tautan yang ada dalam informasi, dan seterusnya.

Tanpa disadari, pola-pola engagement diatas sudah menjadi bagian yang inheren dalam perilaku kita menggunakan media sosial dan mengamplifikasinya. Sayangnya, engagement di platform media sosial ini kemudian dimanfaatkan secara menyimpang oleh beberapa pihak yang bisa mendapatkan akses atasnya. Skandal Cambridge Analytica beberapa waktu lalu adalah salah satu bentuk penyalahgunaan tersebut.

Penyedia platform sendiri memanfaatkan pola engagement ini untuk kepentingan komersialnya, yakni mengkustomisasi beranda (news feed) masing-masing pengguna secara unik menyesuaikan preferensi pengguna itu sendiri. Proses ini sejatinya bisa juga sebagai proses kurasi informasi, namun menggunakan piranti algoritma dan assistive technology (Jonas Bedford-Strohm, 2019). Pada gilirannya, hal ini memudahkan bagi penyedia platform untuk menampilkan iklan yang relevan untuk masing-masing pengguna dan menangguk profit atasnya. Namun di sisi lain, kustomisasi ini ditengarai menyebabkan apa yang disebut filter bubble dan echo chamber yang dalam jangka panjang dan kehidupan sosial, bersifat polaritatif, separatif dan destruktif. Atas fenomena inilah, beberapa waktu lalu viral tagar # Stop Hate for Profit yang mengkampanyekan agar penyedia platform media sosial agar berhenti mengambil keuntungan dari ujaran kebencian, rasisme, anti semit yang muncul akibat implementasi engagement di dalam platformnya.