Membangun (kembali) kepercayaan atas informasi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Tulisan ini merupakan rangkuman diskusi tim editor Wiksadipa.com bersama Sabrang Mawa Damar Panuluh. Membahas tentang perkembangan berlimpahnya informasi sebagai konsekuensi dari perkembangan teknologi informasi.

Penulis : Suko Widodo, Mohammad Hasanudin dan Sabrang Mawa Damar Panuluh.

– bagian pertama dari enam tulisan –

The 2019-nCov outbreak and response has been accompanied by a massive ‘infodemic’ – an overabundance of information – some accurate and some not – that makes it hard for people to find trustworthy sources and reliable guidance when they need it

(WHO Situation Report, 2 Februari 2020)

Pandemi Covid-19 sudah lebih dari  satu tahun melanda dunia. Ingatan kolektif akan pandemi terakhir, flu Spanyol, satu abad lalu, seolah tak membantu apapun. Sejak kejadian awal di Wuhan, Cina, informasi mengenai virus ini dengan cepat tersebar di seluruh dunia. Terima kasih kepada teknologi internet dan pencapaian turunannya.

Berlimpahnya informasi mengenai Coronavirus di awal pandemi, ditambah dengan kecepatan penyebarannya, adalah berkah bagi pihak-pihak yang berwenang merespon pandemi ini di setiap negara. Informasi mengenai karakteristik virus, gejala, maupun upaya Cina di Wuhan menjadi input yang sangat berharga sebagai dasar untuk upaya pencegahan di wilayah lain.

Namun di sisi lain, ketika teknologi internet juga membuka akses setiap orang menjadi produsen informasi, informasi yang berlimpah tersebut sekaligus bertambah volumenya. Keterbukaan akses akan informasi tersebut juga memungkinkan setiap bit informasi bisa langsung tersebar begitu saja. Bayangkan setiap orang memproduksi sebuah informasi. Kemudain sampai kepada orang lain, yang kemudian menambah atau mengurangi informasi tersebut, dan lalu menyebarkannya kembali. Kemajuan teknologi internet telah memungkinkan setiap orang menjadi produsen sekaligus konsumen informasi pada saat yang sama.

Pada satu titik, keberlimpahan informasi (abundance of information) dan kemudahan aksesnya adalah sebuah anugerah. Namun pada titik yang sama, ia kemudian menjelma dalam rupa yang lain sebagai sebuah masalah baru. Yang dalam konteks penanganan sebuah pandemi, menjadi pandemi tersendiri yang WHO menyebutnya sebagai infodemi. Hal ini sebenarnya sudah sejak awal, dalam dunia informasi, dikenal dengan infobesity atau information overload. Cambridge Dictionary mendefinisikannya sebagai sebuah situasi dimana kita menerima terlalu banyak informasi pada suatu waktu tanpa bisa mencernanya dengan jernih.

Pengertian Information Overload dari Cambridge Dictionary

Beberapa kejadian dalam konteks pandemi Covid-19 ini menunjukkan bahwa infodemi ini adalah masalah serius. Setidaknya 44 orang di Iran meninggal karena ada informasi yang menyatakan minuman keras racikan bisa menyembuhkan Covid-19 (10 Maret 2020). Kemudian ada Gary Lenius, seorang pria di Texas, yang meninggal karena meminum cairan kimia pembersih yang dikiranya mengandung hydroxychloroquine setelah presiden Trump menyatakan hydroxychloroquine bisa menyembuhkan Covid-19.

Hal tersebut menunjukkan bahwa terhadap informasi, kita sebagai manusia, ternyata tidak 100% menerimanya secara rasional. Bahkan lebih dominan menyikapinya secara emosional. Tidak peduli betapa berpendidikannya kita, sangat rentan di hadapan sebuah informasi yang memperkuat pandangan, pra-asumsi dan pendapat pribadi yang sebelumnya telah dimiliki, dan kemudian terikat kuat terhadap informasi tersebut karena ia membuat kita merasa penting. Demikian paparan Claire Wardle dari First Draft dalam sebuah konferensi infodemiologi.

Informasi terpercaya

Infodemi dalam konteks pandemi Covid-19 ini semakin atau malah memberikan contoh jelas, bahwa salah satu hal penting dari sebuah informasi adalah mutu atau kualitas informasi tersebut, sehingga layak untuk dipercaya dan menjadi rujukan atau dasar dalam melakukan sesuatu. Dalam konteks yang lebih besar, setiap informasi yang ada harus bisa dikonversi menjadi data sehingga bisa ditemukan korelasinya menjadi struktur yang solid. Pada tataran kebijakan, struktur solid ini adalah bahan mentah di dapur yang disajikan melalui komunikasi publik dalam bentuk kebijakan-kebijakan. Maka informasi yang terpercaya adalah sebuah kunci utama untuk memudahkan mengatasi infodemi ini pada skala yang lebih besar, tidak hanya dalam konteks pandemi.

Edelman Trust Barometer 2020 menunjukkan 50% dari respondennya adalah amplifiers, yakni konsumen informasi yang membaca berita dalam frekuensi mingguan -atau bahkan lebih sering DAN membagikan berita yang dibacanya beberapa kali setelahnya. Ini menjadikan amplifikasi sebuah informasi menjadi sangat cepat dan sulit untuk dilacak, apalagi dikendalikan. Dalam konteks fake news ada sebuah satir yang mengatakan ketika berita yang valid/benar sedang mengikat tali sepatunya, berita palsu telah dua kali mengelilingi dunia. Maka bisa dibayangkan jika sebuah informasi yang belum bisa “dinilai” trustablitynya membanjiri ruang publik yang ada, pasti akan menenggelamkan informasi lain yang sebenarnya jauh lebih penting dan substansial untuk publik.

Kualitas informasi ini juga menjadi salah satu hal yang diriset oleh Edelman. 57% dari responden merasa bahwa media yang dibacanya terkontaminasi oleh informasi yang tidak bisa dipercaya. Dan 76% mengkhawatirkan bahwa dis/misinformasi yang ada kemudian dijadikan “senjata” oleh mereka yang mempunyai motif dan pretensi.

Meskipun memang yang lebih penting adalah pada sisi hilirnya, yakni literasi digital setiap konsumen informasi yang memadai, pada titik persebaran informasi ini dirasa perlu mekanisme kurasi informasi untuk “mengimbangi” volume informasi berkualitas rendah yang memenuhi ruang publik. Secara umum, di sinilah jurnalis, jurnalisme dan media menemukan konteks pentingnya dalam dunia informasi digital. Berkembang dari definisi konvensional bahwa jurnalisme berkaitan dengan media – jurnalisme “kembali ke khittah” yakni menyediakan informasi yang terpercaya dalam ruang publik, sekaligus diperkaya oleh teknologi informasi untuk menyediakan ruang interaksi dan engagement akan sebuah informasi sehingga masyarakat bisa turut terlibat di dalamnya secara langsung.

berlanjut ke bagian kedua