Jurnalisme Kuratorial

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Tulisan ini merupakan rangkuman diskusi tim editor Wiksadipa.com bersama Sabrang Mawa Damar Panuluh. Membahas tentang perkembangan berlimpahnya informasi sebagai konsekuensi dari perkembangan teknologi informasi.

bagian kedua dari enam tulisan

Penulis : Suko Widodo, Mohammad Hasanudin dan Sabrang Mawa Damar Panuluh.

Lawrence Cranberg, seorang fisikawan, dalam sebuah artikelnya Plea for recognition of scientific character of journalism menyebut bahwa jurnalisme itu sendiri adalah sains. Jurnalis yang bertanggung jawab sebenarnya adalah seorang ilmuwan, yang mestinya bisa menerapkan metode saintifik dalam aktifitas jurnalistiknya. Hal ini pada gilirannya akan meningkatkan bobot dan kualitas informasi hasil proses jurnalistiknya. Bahkan andaikata informasi tersebut ternyata tidak valid, karena ia dibangun diatas metode saintifik, maka relatif lebih mudah untuk dievaluasi dan dikoreksi. Dari dasar ini, kemudian kita banyak mengenal jenis jurnalisme lain yang memberikan sentuhan data atau analisa pada sebuah informasi. Precision journalism atau data-driven journalism adalah beberapa jenis jurnalisme yang berkembang untuk memperbaiki kualitas informasi yang dihasilkan.

Namun saat ini dimana percepatan produksi dan persebaran informasi kian tinggi, kurang fair juga menuntut jurnalis untuk menghabiskan waktu dan tenaganya melakukan proses saintifik yang layak dalam kegiatan jurnalistiknya. Sebab bisa jadi produk informasinya nanti akan kehilangan momentum dan konteks ketika akhirnya dirilis ke ruang publik. Maka jalan tengah yang mungkin bisa dicapai adalah implementasi metode saintifik dalam proses kurasi informasi. Setidaknya implementasi dari verificationism dan falsificationism. Tidak akan dapat dihindari jika muncul kritik atas nama kebebasan mendapatkan informasi atas proses kurasi yang dilakukan. Setidaknya kurasi informasi bisa menjadi alternatif dalam dialektika wacana mengenai liberasi vs restriksi informasi.

Namun, dalam masa infodemi ini, jurnalisme kuratorial ini adalah salah satu langkah untuk mengimbangi, syukur-syukur bisa memperlambat laju persebaran dis/misinformasi dalam ruang publik.

Proses kurasi informasi sendiri bukanlah hal yang baru dalam dunia jurnalistik. Dalam era media sebelum ini, setiap surat kabar ataupun media cetak, bahkan media radio dan televisi, yang sampai ke tempat kita sebagai pelanggan atau konsumen, sebenarnya telah melalui proses kurasi ini. Yang perlu ditekankan saat ini adalah menyesuaikan proses ini dari jurnalisme kurasi (curation journalism) menjadi jurnalisme kuratorial (curatorial journalism). Titik tekannya adalah menjadikan proses kurasi menjadi tidak hanya sebagai sebuah kata benda, melainkan kata sifat yang secara alami melekat pada setiap informasi. Bahkan pada pendulum yang paling optimal, kuratorial ini juga bisa menjadi sifat yang melekat pada setiap konsumen informasi, tidak hanya dari sisi produsen informasi. Kemajuan teknologi internet dan analisa data memberikan peluang untuk itu. Tantangannya adalah pada memaksa untuk membiasakan diri melalui mekanisme tersebut. Dalam paruh pertama 2021 yang masih dibawah bayang-bayang pandemi dan infodemi ini, kita bisa bergotong-royong bersama untuk membangun kembali kepercayaan satu sama lain. Diawali dengan membangun kembali kepercayaan atas informasi, yang diproduksi (dan sekaligus didistribusikan) dengan inspirasi kuratorial. Hal ini semoga bisa menjawab beberapa aspek dimana media dianggap sebagai institusi yang kurang dipercaya berdasarkan Edelman Trust Barometer 2020. Yakni dari aspek objektifitas, kualitas informasi, dan sensasi.