Menyiapkan Resiko Sentimen Informasi Dalam Platform Digital

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Suko Widodo
Dosen Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Airlangga

Suatu hari tiba-tiba Budi mendadak enggan berangkat sekolah. Meskipun sudah selesai mandi dan mengenakan seragam lengkap, siswa kelas V sekolah dasar ini enggan beranjak dari tempatnya duduk. Ketika ayahnya yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani bertanya, Budi menjawab bahwa ia habis berantem dengan salah seorang temannya kemarin. Dan hari ini enggan sekolah hanya karena takut dihukum.

Fragmen diatas rasanya cukup akrab di keseharian. Seorang murid yang enggan masuk sekolah, misalnya karena belum mengerjakan PR yang menjadi tugasnya. Atau karena mendapatkan giliran menjadi pembaca teks Pancasila dalam upacara bendera. Mungkin juga karena si murid didaulat menjadi juru bicara kelompoknya dalam sebuah presentasi tugas kelasnya.

Persis seperti yang terjadi di Conflans-Sainte-Honorine, sekitar 25 km dari kota Paris, Perancis. Seorang anak tidak masuk sekolah karena teman-temannya menunjuknya menjadi juru bicara kelompok, yang kemudian memilih untuk mengarang sebuah cerita agar tidak dimarahi ayahnya. Ia bercerita kepada ayahnya bahwa seorang guru sejarah akan menunjukkan sesuatu yang sensitif dan meminta siswanya yang beragama Islam untuk meninggalkan kelas. Sialnya, ceritanya kemudian menyulut emosi sang ayah. Sang ayah meresponnya dengan mengajukan keberatan secara formal atas tindakan sang guru. Tidak berhenti di situ, sang ayah kemudian mengunggah kisah dan kemarahannya itu ke media sosial. Sepuluh hari kemudian, sang guru sejarah meninggal dengan cara dipenggal dalam perjalanan pulang ke rumahnya dari sekolah tempatnya mengajar. Pelaku pemenggalan melakukan tindakannya tersebut setelah tersulut oleh unggahan ayah siswa tersebut di media sosial.

Fragmen seorang anak tidak masuk sekolah, sebagaimana di awal tulisan ini, adalah fragmen yang jamak ditemukan. Namun beberapa tahun lalu, fragmen diatas tidak akan berkembang menjadi status, unggahan ataupun share di media sosial. Sulit membayangkan peristiwa pemenggalan itu bisa terjadi 20-30 tahun yang lalu. Bahwa ekses di dunia nyata sebagai akibat dari sebuah informasi atau interaksi di dunia maya (internet) sebenarnya bukanlah fenomena baru. Setidaknya indikasi-indikasi keterkaitannya juga “terbaca” pada konflik Ambon beberapa tahun yang lalu dan pada polemik Ahok dalam kasus penistaan agama. Hal tersebut termuat dalam paparan Hokky Situngkir dalam sebuah simposium terbatas mengenai makro-mikro konflik sosial di Fisip Unair 2018 lalu.

Sentimen (terhadap) Informasi

Dunia internet dengan media sosialnya adalah sumber informasi baru di era informasi ini. Namun tidak hanya berhenti sebagai sumber informasi, sifatnya yang personal menjadikan informasi di dalamnya juga menjadi lebih personal jika dibandingkan dengan informasi di platform lain, seperti portal berita online misalnya. Dengan bias kognitif yang semakin membesar, secara hipotesa diperparah oleh syahwat politik dan pola pembelajaran sosial, setiap informasi yang muncul di media sosial (dengan akun pribadi) menjadi “terasa lebih dekat secara emosional” bagi para penggunanya. Apalagi jika informasi tersebut kemudian dibagikan kembali di dalam platform perpesanan (messaging) yang lebih pribadi lagi sifatnya. Sentimen pribadi dan kelompok penerima informasi kemudian menentukan “suhu/temperatur” sebuah informasi yang sejatinya bersifat netral sebagai sebuah informasi.

Fragmen pemenggalan Samuel Paty diatas, seorang guru sejarah di Perancis, adalah salah satu dari sekian banyak kejadian sebagai akibat dari respon terhadap sebuah informasi dalam media sosial. Yang terkini adalah mengenai disebutnya Marwa Elselehdar, perempuan Mesir pertama sebagai kapten kapal, yang disebut-sebut dalam peristiwa terhambatnya Terusan Suez di Mesir. Jika sentimen agama yang terbaca pada fragmen Samuel Paty, sentimen kelompok pada fragmen Ahok dan konflik Ambon, maka pada fragmen Marwa Elselehdar sentimen gender yang lebih mengemuka di tengah diskursus gender di Mesir.

Hulu-hilir informasi di era digital

Sudah sejak lama kata literasi disebut-sebut pada setiap sirkulasi informasi dan tingkat keterpaparan (exposure) sebuah masyarakat terhadap informasi. Maka seluruh upaya peningkatan kualitas literasi ditanamkan pada hulu dan hilir informasi. Sejak dari produsen informasi hingga konsumennya. Pada era media konvensional dan media elektronik, relatif lebih mudah dipetakan dan dipilah bagaimana sebuah informasi diproduksi, disebarluaskan dan dikonsumsi. Namun ketika percepatan informasi meningkat dengan amat sangat cepat di era media digital dan media sosial, tantangan baru muncul tidak hanya peningkatan literasi pada hulu dan hilir informasi saja. Jauh dari cukup untuk hanya menggantungkan harapan pada laju peningkatan kualitas literasi pada produsen dan konsumen informasi, karena kecepatan peningkatan literasi ini mustahil mengimbangi percepatan laju informasi dan sentimen informasi yang memenuhi ruang publik digital. Satu bagian lagi di antara hulu dan hilir informasi yang harus menjadi perhatian bersama. Yakni pada media persebarannya. Platform digital.

Tidak semua pengguna internet mungkin mengetahui bahwa di balik setiap platform ada logika-logika dan algoritma pemrograman yang menjadi mesinnya. Ia yang menentukan bagaimana sebuah informasi (konten) terdistribusi dan tersirkulasi. Algoritma ini yang oleh beberapa pihak disebut-sebut sebagai salah satu permasalahan dominan dari silang sengkarut dis-misinformasi yang terjadi, yang pada ujungnya menciptakan polarisasi di masyarakat. Setidaknya itu yang tertangkap dari sebuah film dokumenter di Netflix, Social Dilemma. Keuntungan ekonomi dari skema baru penayangan iklan dengan skema tema iklan yang lebih spesifik terhadap konsumen potensial, mendorong algoritma di belakang distribusi informasi juga berkembang untuk menyempurnakan targeted advertising tersebut. Setelah skandal Cambridge Analaytica beberapa waktu lalu, Facebook sebagai salah satu platform dimana informasi terdistribusi dan tersirkulasi menghadapi kampanye sosial di bawah tagar #StopHateForProfit yang menyerukan perusahaan-perusahaan besar tidak lagi beriklan melalui platform Facebook.

Jika memang demikian yang terjadi bahwa algoritma tersebut adalah satu permasalahannya, maka semestinya dengan cara berfikir yang sama algoritma tersebut bisa menjadi solusinya. Bukankah ia hanyalah sekedar tool yang dibuat oleh manusia dengan tujuan tertentu? Tinggal apakah kita siap atau tidak. Kalaupun kita tidak bisa berharap kepada the men behind the existing platform, mungkin kita bisa menjadi pelopornya. Peristiwa Samuel Paty di Perancis yang resonansinya mempengaruhi seluruh dunia seharusnya menjadi alarm sangat nyaring akan pentingnya kurasi informasi, di tengah perdebatan  panjang liberasi dan restriksi informasi. Kapasitas seorang penerima dan pengunggah informasi sangat berpengaruh pada potensi resiko yang bakal diakibatkannya. Kini dan ke depan, transformasi masyarakat masuk  dunia berplatform digital  tampaknya memerlukan kesungguhan untuk menyiapkannya.

Siapkah kita?